Pendidikan

Merajut Karakter Sejak Dini, Membuka Gerbang Global Kemudian

Ada benang merah yang menarik kalau kita bicara soal masa depan generasi muda di Indonesia saat ini: bagaimana membentuk mereka menjadi manusia yang kokoh secara mental di tingkat lokal, sekaligus siap bersaing di panggung internasional. Dua isu yang sekilas tampak berada di ranah berbeda—pendidikan karakter remaja di Depok dan diplomasi pendidikan tinggi dengan Kanada—sebenarnya sedang menyuarakan satu narasi besar yang sama tentang bagaimana penataan SDM kita sedang dirombak dari bawah ke atas.

Langkah konkret ini terlihat jelas di Depok baru-baru ini. Pemerintah Kota Depok baru saja menyudahi program pendidikan karakter intensif yang digelar di Markas Divisi 1 Infanteri Kostrad. Menariknya, ke depan bakal ada pembagian wilayah kerja yang lebih tegas. Anak-anak SMA yang awalnya masuk dalam radar program ini, nantinya bakal langsung diurus oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Supian Suri, Wali Kota Depok, mengonfirmasi pergeseran fokus ini usai acara di Markas Kostrad pada Senin (9/6/2025). Menurutnya, setelah berkoordinasi dengan Gubernur, diputuskan bahwa ranah SMA memang menjadi wewenang provinsi. Alhasil, Pemkot Depok bakal mencurahkan perhatian penuhnya untuk menggembleng remaja usia 13 hingga 15 tahun, alias usia-usia krusial di tingkat SMP.

Meskipun durasinya terhitung singkat, sekitar 10 hari, efek dari pelatihan ala militer ini rupanya di luar dugaan. Ada semacam ikatan emosional yang kuat terbentuk antara para siswa dan pelatih mereka. Perubahan sikap juga langsung kelihatan; anak-anak jadi lebih kompak, paham arti kebersamaan, dan kedisiplinan baris-berbarisnya meningkat tajam. Begitu program selesai, tidak sedikit anak-anak yang menangis karena telanjur betah.

Namun, gemblengan singkat tentu bukan sulap yang efeknya permanen. Pihak Pemkot Depok sadar betul bahwa monitoring pasca-program adalah kunci. Supian mengingatkan bahwa tanggung jawab utama tetap berada di tangan orang tua di rumah; pemerintah hanya mengambil peran sebagai sistem pendukung. Evaluasi total juga sedang disiapkan untuk menampung kritik dan saran, terutama karena animo pendaftar yang membeludak hingga melebihi kuota yang tersedia saat ini. Mekanisme kuota ini yang tampaknya bakal digodok ulang agar bisa mengakomodasi lebih banyak anak di masa depan.

Ketika pondasi karakter di level dasar dan menengah sudah mulai terbentuk lewat kedisiplinan semacam itu, fase berikutnya adalah bagaimana mengarahkan potensi ini ke ranah akademik yang lebih tinggi dan global. Di sinilah peran kebijakan makro bermain.

Hampir bersamaan dengan evaluasi pendidikan di daerah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Jakarta langsung tancap gas untuk memperluas akses global bagi lulusan-lulusan terbaik tanah air. Kanada kini resmi dibidik sebagai salah satu destinasi utama, khususnya bagi para alumni program Garuda Top School—sebuah inisiatif strategis pemerintah untuk meloloskan talenta lokal ke kampus-kampus elite dunia.

Menteri Pendidikan Tinggi, Brian Yuliarto, dalam pertemuannya dengan Duta Besar Indonesia untuk Kanada, Muhsin Syihab, di Jakarta (30/6/2025), menegaskan kesiapan pemerintah untuk mendongkrak kerja sama akademik ini. Targetnya jelas: mobilitas mahasiswa dan dosen yang lebih masif, riset bersama, hingga kolaborasi antarkampus yang lebih intim. Saat ini sebetulnya sudah ada 108 kesepakatan aktif antara universitas di Indonesia dan Kanada yang mencakup pertukaran pelajar hingga seminar ilmiah, tapi pemerintah ingin dampaknya lebih terasa nyata dan meluas.

Menariknya, sistem pendidikan tinggi di Kanada yang tidak terpusat dan dikelola langsung oleh yurisdiksi provinsi justru dilihat sebagai peluang emas. Dubes Muhsin Syihab melihat model desentralisasi ini memberikan fleksibilitas tinggi bagi kampus-kampus di Indonesia untuk menjalin kerja sama yang lebih spesifik dan tepat sasaran. KBRI Ottawa pun berkomitmen penuh untuk menjembatani dan mencari langkah konkret agar kolaborasi ini bukan sekadar di atas kertas, tapi benar-benar saling menguntungkan.

Fokus pemerintah sekarang bergeser pada optimalisasi beasiswa seperti Indonesia Maju dan program Garuda. Diskusi mendalam mulai diarahkan pada hal-hal taktis yang sering kali luput: bimbingan sebelum keberangkatan, persiapan akademik yang matang, strategi adaptasi budaya di sana, hingga jaminan dukungan pemerintah yang berkelanjutan selama mahasiswa kita menuntut ilmu di negeri orang.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di barak militer Depok dan ruang pertemuan diplomatik di Jakarta adalah dua sisi dari koin yang sama. Membentuk karakter yang tangguh di usia remaja adalah modal awal, sedangkan membuka jalan selebar-lebarnya ke universitas top dunia adalah muaranya. Indonesia sepertinya sedang mencoba memastikan bahwa ketika anak-anak muda ini melangkah ke luar negeri, mereka tidak hanya membawa otak yang cerdas, tetapi juga mentalitas yang sudah teruji.