Hiburan

Jejak Musikal Toto: Antara Kekecewaan di Surabaya dan Penghormatan Akustik Kent Nishimura

Grup musik legendaris asal Amerika Serikat, Toto, memang memiliki tempat tersendiri di hati penggemar musik Indonesia. Namun, sejarah pertunjukan mereka di tanah air pernah menorehkan cerita yang kurang menyenangkan bagi basis penggemar di Jawa Timur. Peristiwa ini menjadi catatan tersendiri tentang bagaimana dinamika konser musik internasional menghadapi kendala teknis di lapangan.

Insiden Batalnya Konser di Empire Palace

Kekecewaan mendalam sempat menyelimuti ratusan penggemar setia Toto di Surabaya, Jawa Timur, pada hari Rabu (12/3). Sekitar 700 penonton yang telah memadati Empire Palace harus menelan pil pahit karena grup musik pujaan mereka batal tampil sesuai jadwal. Situasi di lokasi sempat diwarnai ketegangan ketika pertunjukan tak kunjung dimulai, membuat para penonton yang sudah menunggu lama tidak dapat menyembunyikan rasa kecewa mereka.

Para penggemar kemudian berusaha mencari pihak penyelenggara di berbagai sudut ruangan untuk meminta kepastian. Sayangnya, harapan mereka pupus ketika mendapati panggung pertunjukan justru kosong melompong. Tidak terlihat adanya peralatan musik maupun persiapan teknis yang menandakan konser akan segera berlangsung. Pihak kepolisian yang berada di lokasi akhirnya turun tangan untuk menengahi situasi dan mempertemukan perwakilan panitia dengan penonton guna memberikan penjelasan resmi.

Masalah Logistik dan Pengembalian Tiket

Dalam mediasi tersebut, terungkap bahwa pembatalan mendadak ini disebabkan oleh kendala logistik yang fatal. Alat-alat musik milik Toto dilaporkan masih tertahan di Bea Cukai Cengkareng, Jakarta, sehingga tidak memungkinkan bagi band untuk tampil malam itu. Sebagai bentuk tanggung jawab agar situasi tetap kondusif, pihak kepolisian meminta panitia untuk segera memproses pengembalian uang tiket.

Meskipun panitia sempat menjanjikan penjadwalan ulang pentas pada Kamis malam, mayoritas penonton tampaknya sudah kehilangan antusiasme. Mereka lebih memilih menukarkan tiket yang telah dibeli dengan kisaran harga Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu tersebut kembali menjadi uang tunai, menutup malam itu dengan rasa kecewa namun tetap tertib.

Interpretasi Segar “Rosanna” oleh Kent Nishimura

Terlepas dari insiden logistik yang pernah terjadi di masa lalu, karya-karya Toto tetap abadi dan terus diapresiasi oleh musisi lintas generasi. Baru-baru ini, gitaris akustik berbakat, Kent Nishimura, memberikan penghormatan luar biasa terhadap salah satu hits terbesar Toto keluaran tahun 1982, “Rosanna”.

Nishimura menyuguhkan penampilan solo yang memukau, di mana ia berhasil menerjemahkan kompleksitas aransemen asli lagu tersebut hanya dengan menggunakan satu gitar akustik. Melalui teknik fingerstyle yang luar biasa, ia mampu mereplikasi lapisan-lapisan instrumen dari lagu pop-rock tersebut secara mendetail. Penampilan Nishimura ini seolah menjadi pengobat rindu bagi para penggemar Toto, membuktikan bahwa keindahan komposisi musik mereka dapat dinikmati dalam berbagai format, baik di panggung megah maupun melalui dawai gitar akustik yang intim.