Antusiasme menyambut Hari Raya Idul Fitri selalu terasa jauh sebelum hari kemenangan itu tiba. Bagi masyarakat Indonesia, Lebaran bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan momentum kultural untuk mudik dan berkumpul bersama keluarga besar. Tak heran jika pertanyaan mengenai kapan tepatnya libur Lebaran 2026 berlangsung mulai bermunculan, meski tahun pelaksanaannya masih di depan mata. Hal ini berkaitan erat dengan persiapan logistik, mulai dari pengajuan cuti hingga pemesanan tiket perjalanan yang kerap melonjak tajam saat musim liburan tiba.
Estimasi Tanggal dan Menunggu Keputusan Resmi
Berdasarkan perhitungan kalender hijriah yang beredar, 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri tahun 2026 diperkirakan jatuh pada bulan Maret, tepatnya sekitar tanggal 20 Maret 2026. Jika prediksi ini akurat, maka momen Lebaran akan berlangsung lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, perlu dipahami bahwa tanggal tersebut masih bersifat prediksi astronomis semata.
Di Indonesia, kepastian penetapan 1 Syawal tetap harus menunggu hasil sidang isbat yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama. Sidang ini akan menggabungkan metode hisab dan rukyatul hilal atau pengamatan langsung terhadap bulan sabit muda di berbagai titik pantau di seluruh nusantara. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menjadikan tanggal prediksi ini sebagai ancar-ancar kasar sembari menunggu pengumuman resmi.
Terkait durasi libur, pemerintah biasanya mengatur jadwal libur nasional dan cuti bersama melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri yang ditandatangani oleh Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Hingga saat ini, SKB untuk tahun 2026 belum diterbitkan, namun berkaca pada pola tahun-tahun sebelumnya, pemerintah kerap memberikan porsi libur dan cuti bersama yang cukup panjang di sekitar akhir pekan. Hal ini menciptakan peluang long weekend yang ideal untuk mobilisasi massa dalam jumlah besar, baik untuk ritual mudik maupun berwisata.
Target Ambisius Pariwisata 2026
Tingginya pergerakan masyarakat saat libur Lebaran ini sejalan dengan optimisme sektor pariwisata nasional yang diprediksi akan mencetak rekor baru pada tahun 2026. Setelah menunjukkan performa pemulihan yang solid sepanjang tahun 2025, pariwisata Indonesia kini berada di ambang fase pertumbuhan berkelanjutan yang diyakini mampu melampaui angka pencapaian sebelum pandemi Covid-19.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, dalam forum pariwisata ASEAN di Cebu, Filipina, menegaskan bahwa momentum positif ini akan terus berlanjut. Indonesia semakin dipandang sebagai destinasi unggulan dalam skala global. Target yang dicanangkan pun tidak main-main. Pada tahun 2026, Indonesia membidik kedatangan 16 hingga 17,6 juta wisatawan mancanegara. Angka ini merupakan lompatan dari target tahun 2025 yang berkisar di angka 15 hingga 16 juta kunjungan asing.
Kekuatan utama pariwisata Indonesia sejatinya juga terletak pada pasar domestik. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, pergerakan wisatawan nusantara diproyeksikan mencapai angka fantastis. Jika pada tahun sebelumnya tercatat sekitar 1,09 miliar perjalanan, maka pada 2026 diperkirakan akan terjadi lonjakan hingga 1,18 miliar perjalanan domestik. Skala masif ini merepresentasikan potensi ekonomi yang luar biasa, di mana rata-rata penduduk melakukan perjalanan wisata tiga hingga empat kali dalam setahun.
Fokus pada Kualitas dan Pemerataan Destinasi
Pemerintah tidak lagi hanya mengejar kuantitas angka kedatangan, melainkan mulai beralih pada strategi quality tourism yang menekankan pada nilai belanja, penyerapan tenaga kerja, dan dampak jangka panjang. Sektor pariwisata kini menjadi salah satu penyumbang lapangan kerja terbesar, menaungi sekitar 25,9 juta pekerja di berbagai ekosistem mulai dari transportasi, akomodasi, hingga ekonomi kreatif. Angka ini diproyeksikan naik menjadi 26,5 juta pekerja pada 2026 dengan kontribusi terhadap PDB ditargetkan mencapai 4,6 persen.
Dari sisi pendapatan devisa, pariwisata diharapkan mampu menghasilkan antara 22 hingga 24,7 miliar dolar AS pada 2026, dengan rata-rata pengeluaran per wisatawan meningkat menjadi sekitar 1.372 hingga 1.404 dolar AS. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah menetapkan 15 pasar prioritas, termasuk Jepang, Malaysia, Singapura, India, Arab Saudi, Jerman, Inggris, dan Prancis, yang dipilih berdasarkan konektivitas dan pola belanja mereka.
Meski demikian, tantangan pemerataan masih menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah sedang mengevaluasi ulang strategi promosi untuk 12 destinasi “Bali Baru” guna mengurangi beban pariwisata yang selama ini terlalu terpusat di Pulau Dewata. Harapannya, daya tarik destinasi alternatif ini dapat ditingkatkan agar kue pariwisata terbagi lebih merata ke berbagai daerah.
Inovasi Digital dan Kampanye Baru
Guna mendukung target-target tersebut, transformasi digital digalakkan secara masif. Sejak akhir 2025, Kementerian Pariwisata telah meluncurkan konsep “Tourism 5.0” yang mengedepankan personalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Salah satu terobosannya adalah “MAIA”, pendamping perjalanan berbasis AI yang dirancang untuk memberikan informasi terpercaya dan disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan, mulai dari perencanaan hingga saat ketibaan.
Seluruh strategi ini dibungkus dalam tema besar pariwisata 2026 yang mengusung pengalaman bermakna, tanggung jawab lingkungan, dan penghormatan budaya. Melalui kampanye global bertajuk “Go Beyond Ordinary”, Indonesia berambisi menawarkan kedalaman dan keragaman yang autentik melalui pilar wisata bahari, kesehatan, gastronomi, serta seni dan budaya. Dengan persiapan matang baik dari sisi regulasi libur nasional maupun strategi industri pariwisata, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun yang sibuk sekaligus menguntungkan bagi Indonesia.



