Dalam pemahaman fundamental fisika, atom menduduki posisi sentral sebagai unit dasar penyusun segala materi yang ada di alam semesta. Sejak masa Yunani Kuno, konsep ini telah menjadi bahan perdebatan filosofis, di mana Leucippus dan Democritus menjadi pionir yang memperkenalkan gagasan bahwa materi tersusun dari bagian terkecil yang tak dapat dibagi lagi. Definisi ini terus berkembang hingga Kamus Besar Bahasa Indonesia kini mengartikannya sebagai unsur kimia terkecil yang mampu berdiri sendiri maupun bersenyawa. Encyclopedia Britannica mempertegas peran krusial atom sebagai pemberi sifat kimia pada suatu benda, meskipun partikel penyusunnya secara individu tidak membawa sifat tersebut secara mandiri.
Secara visual, struktur atom sering digambarkan menyerupai bola mikroskopis. Di dalam struktur yang sangat kecil ini, terdapat tata letak yang presisi: inti atom yang padat dikelilingi oleh ruang di mana elektron bergerak. Inti atau nukleus menjadi rumah bagi proton dan neutron yang berkumpul menjadi satu kesatuan yang padat, sementara elektron menempati lintasan atau orbit di kulit terluar, terpisah dari inti namun tetap terikat dalam sistem tersebut.
Dinamika Proton, Neutron, dan Elektron
Kestabilan sebuah atom sangat bergantung pada inti atomnya. Proton, partikel bermuatan positif, memiliki massa yang signifikan—sekitar 1.836 kali lebih berat daripada elektron atau setara dengan 1,67262 x 10^-27 kg. Karena posisinya yang terlindungi jauh di dalam inti, proton sangat stabil dan tidak mudah terganggu oleh interaksi dari luar atom. Bersanding dengan proton, terdapat neutron yang ditemukan di hampir semua inti atom, kecuali pada hidrogen. Seperti namanya, neutron bersifat netral tanpa muatan listrik dan memiliki massa yang sedikit lebih berat daripada proton, yakni 1,67493 x 10^-27 kg.
Berbeda halnya dengan penghuni inti, elektron adalah partikel yang jauh lebih dinamis. Bermuatan negatif dan sangat ringan—dengan massa hanya 9,1093837015 x 10^-31 kg—elektron mengorbit inti layaknya planet-planet yang mengelilingi Matahari. Saking ringannya, 99 persen massa atom sesungguhnya disumbangkan oleh proton dan neutron. Posisi elektron di kulit terluar membuatnya tidak stabil; mereka dapat lepas atau berpindah ke atom lain, sebuah proses yang memicu terjadinya reaksi kimia. Perilaku partikel subatomik yang unik ini, terutama sifat gelombang dan perpindahan energi, menjadi dasar bagi pengembangan fisika kuantum modern.
Terobosan Interferometri dalam Pengukuran Presisi
Pemahaman mendalam mengenai perilaku partikel dan gelombang pada skala mikroskopis ini membuka jalan bagi aplikasi teknologi canggih. Baru-baru ini, sebuah tim fisikawan dari Ludwig-Maximilians-Universität (LMU) München, yang tergabung dalam klaster keunggulan MCQST, bersama peneliti dari Universitas Tel Aviv, berhasil mengembangkan metode pengukuran baru yang memanfaatkan prinsip-prinsip kuantum. Mereka menggunakan teknik interferometri yang ditingkatkan secara kuantum untuk mendeteksi pergeseran atau kemiringan sinar laser yang sangat kecil dengan sensitivitas ekstrem.
Teknologi ini berpusat pada apa yang disebut weak value amplification (WVA) atau amplifikasi nilai lemah. Metode ini muncul dari studi fundamental mekanika kuantum dan memungkinkan para ilmuwan mendeteksi perubahan minimal pada sinyal output interferometer. Carlotta Versmold, fisikawan LMU yang terlibat dalam studi ini, menjelaskan bahwa timnya berhasil memodifikasi jalur sinar masuk menggunakan prisma Dove. Prisma ini diletakkan di salah satu lengan interferometer untuk menciptakan pantulan tambahan, yang menyebabkan pergeseran pada dua jalur sinar ke arah yang berlawanan, sehingga menghasilkan efek amplifikasi pergeseran yang signifikan.
Aplikasi Nyata: Dari Menyadap Percakapan hingga Mikroskopi
Implikasi dari penemuan ini cukup luas, terutama dalam bidang yang membutuhkan presisi tinggi seperti mikroskopi gaya atom (atomic force microscopy). Dalam eksperimennya, Versmold mampu mengukur kemiringan dan perpindahan sinar yang masuk ke interferometer dengan ketelitian hingga persepuluh mikroradian dan persepuluh mikrometer—jauh lebih kecil dibandingkan diameter sinar laser itu sendiri yang berukuran sekitar dua milimeter.
Untuk mendemonstrasikan potensi teknologi ini dalam skenario dunia nyata, para peneliti melakukan percobaan unik. Mereka mengkodekan musik ke dalam getaran cermin, lalu memantulkan sinar laser dari cermin tersebut ke dalam sistem interferometer mereka. Hasilnya mengejutkan; kualitas suara yang dihasilkan jauh lebih baik dibandingkan sinyal audio konvensional yang dikonversi menjadi cahaya dan dikembalikan menjadi suara tanpa bantuan interferometer. Bahkan, teknologi ini secara teoritis memungkinkan sinar laser yang dipantulkan dari jendela kaca gedung untuk menangkap getaran kaca akibat percakapan di dalamnya, memungkinkan penyadapan audio dengan detail yang presisi. Harald Weinfurter, penulis senior studi tersebut, menegaskan bahwa hasil ini membuktikan potensi besar metode WVA untuk pengukuran yang sangat sensitif di masa depan.



