oleh

Calon Alternatif Mampukah Merubah Peta Politik ?

Calon Alternatif Mampukah Merubah Peta Politik ?

Oleh : Suparman Romans

TRIBUNPOS, PALEMBANG Menarik, sungguh menarik menyimak dinamika politik menjelang pilkada kabupaten Ogan Ilir yang sudah semakin mendekati tahapan pendaftaran bacalon oleh KPU Kab Ogan Ilir. Khususnya saat ada pemberitaan di berbagai media tentang pengunduran diri Ahmad Wajir Noviandi dari bakal calon bupati Ogan Ilir.

Mengapa menarik ?

Pertama, karena AW Noviandi (Ovi) bahkan sudah memperoleh dukungan resmi partai – partai politik sebagai syarat atau tiket untuk mendaftarkan diri bersama pasangannya Ardani ke KPU sebagai salah satu pasangan bacalon bupati dan wakil bupati selain pasangan incumbent Ilyas Panji Alam dan Endang PU. Dengan digantikannya posisi Ovi oleh Panca Wijaya Akbar yang notabene adalah adik kandungnya sendiri maka sangat menarik untuk dikaji dan dianalisa oleh para praktisi maupun pengamat politik di Sumsel.

Kedua, inilah pertarungan prestisius sekaligus ajang perang politik “revans” antara dinasti Mawardi Yahya yang merupakan Wagub Provinsi Sumsel dan mantan bupati Ogan Ilir dua kali, dengan dinasti Ilyas Panji Alam yang mencoba menancapkan cakar dinasti baru selain klan Mawardi Yahya.

Mengutip tulisan sahabat saya pengamat politik Bagindo Togar yang begitu jeli melihat aroma “balas dendam politik” didalam kontestasi pilkada Ogan Ilir.
Bagaimana dua kubu yang awalnya bersatu (ovi dan ilyas) sebagai paslon bupati dan wakil bupati OI yang berhasil memenangkan kontestasi pilkada tahun 2015 mengalahkan pasangan Helmy Yahya dan Muchendi Mahzareki, kini harus saling berhadapan sebagai seteru politik.

Bagindo melihat dalam pandangan analisisnya bahwa sesungguhnya ini bukan semata – mata pertarungan antar dua pasangan calon bupati /wakil bupati, tapi ini lebih merupakan pertaruhan prestise dan ajang balas dendam politik (revenge). Oleh karena itu dengan mundurnya Ovi digantikan Panca, tidak otomatis akan mengubah peta politik Ogan Ilir secara signifikan, karena dapat dirasakan sesungguhnya pilkada OI adalah pertarungan antara Mawardi Yahya (MY) dengan Ilyas Panji Alam (IPA). Hanya saja memang MY bersama thinktanknya harus sedikit bekerja keras untuk menyusun kembali strategi pemenangan dengan penggantian posisi Ovi kepada Panca.

MY dengan sosok berjiwa petarung dan politikus kawakan tentu telah memperhitungkan serta mengantisipasi sejak awal tentang berbagai kemungkinan yang akan terjadi jika Ovi dimajukan kembali sebagai calon bupati. Hal ini sangat jelas ditunjukkannya saat diawal – awal masa sosialisasi MY menyebutkan kedua putranya Ovi dan Panca sebagai kandidat yang akan dipersiapkan untuk masuk bursa calon bupati. Namun memang ada kesan MY lebih memprioritaskan Ovi untuk maju, dan ini bisa diamati dengan berbagai aktifitas positif Ovi baik dalam hal melakukan recovery jatidirinya yang sempat tesandung kasus narkoba, maupun komunikasi politik dengan berbagai parpol untuk memperoleh dukungan. Alhasil Ovi mendapat kepercayaan dari berbagai parpol dengan terbitnya rekomendasi resmi mendukung pencalonannya dan terakhir bahkan telah mencukupi syarat dukungan untuk mendaftar di KPU.

Namun putusan MK ibarat tembok yang menghadang tekad serta semangat Ovi untuk meneruskan perjuangannya. Sinyal – sinyal untuk menjegal langkahnya semakin kuat dengan fatwa dari KPU yang mensinyalir akan mengimplementasikan putusan MK, yakni melarang mantan pengguna narkoba untuk mencalonkan diri.
Oleh karena itu sebelum nasi menjadi bubur, MY langsung melakukan langkah taktis, menjalankan plan 2, menarik Ovi dan mendorong Panca utk maju dengan pasangan cawabup yg tetap sama, Ardani.

Lantas kira – kira bagaimana reaksi kubu IPA ?

Jelas perubahan komposisi pasangan calon seterunya akan memberi spirit yang cukup besar untuk membangun keyakinan akan bisa memenangkan pertarungan politik di Ogan Ilir kali ini. Dan tentu IPA juga berharap pergantian ini akan merubah konstelasi politik Ogan Ilir di fase – fase terakhir unruk menjadi keuntungan politik bagi pasangannya. Namun IPA patut untuk waspada, karena siapapun lawannya, sejatinya dia tetap berhadapan dengan MY.

Jika dianalogikan maka pilkada Ogan Ilir saat ini merupakan pertarungan arus bawah dan arus atas. Panca-Ardani simbol kekuatan arus bawah yang mengandalkan jaringan politik langsung ke masyarakat pemilih selain jaringan parpol pendukung dan relawan, dan tentu saja yang paling terasa adalah kekuatan pengaruh politik MY yang sudah mengakar dimasyarakat Ogan Ilir.
Sementara diposisi yang lain IPA- Endang boleh dikatakan sebagai simbol kekuatan arus atas yang mengandalkan mesin birokrasi selain mesin partai dan relawan.

“Bagi saya pribadi, inilah sejatinya pertarungan “Bratayudha” antar dua dinasti kekuasaan dan politik yang akan berlangsung sengit dengan pembuktian kepiawaian masing – masing kubu untuk bisa memenangkan pertarungan yang penuh prestisius. Dari sisi kekuatan politik, maka tiga mesin politik besar PDIP, Golkar, PBB ditambah Hanura dan Berkarya versus beberapa mesin partai politik besar lainnya seperti Partai Gerindra, Demokrat, Nasdem, PKS, PAN, Hanura, dan lain – lain”.

Bagaimana akhir perang Bratayudha ini?

Wallahualam, pada akhirnya tangan tuhan yang akan menentukan.
Mari berpolitik dengan gembira selaras dengan suasana September ceria,

Penulis : Ketua Presidium LKKPPD
Provinsi Sumatera Selatan

Komentar

News Feed