oleh

Belajar Dari Pare-Pare, Ilyas-Endang Bisa Menang di MA, Batalkan Putusan Diskualifikasi KPU

TRIBUNPOS, OGAN ILIR | Hasil pleno KPUD Ogan Ilir memang mengejutkan. Mereka mengumumkan secara resmi telah mendiskualifikasi pasangan Ilyas-Endang dari panggung Pilkada. Keputusan tersebut diambil dengan mengedepankan proses kolektif kolegial.

Walaupun mengecewakan banyak pihak, keputusan tersebut harus diterima dengan lapang dada. Harus diakui bahwa itu bagian dari mekanisme proses pemilu yang sah. Namun yang perlu digaris bawahi, pengumuman diskualifikasi oleh KPU bukanlah akhir dari Pilkada Ogan Ilir. Proses perjuangan tidak boleh berhenti, tapi ini adalah gemuruh ombak yang harus dilalui.

Mengapa kemudian disebut keputusan KPUD “bukan akhir” dari kontestasi? Sebab bisa dilihat contoh kasus serupa di beberapa daerah. Misalnya di Kapubaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Bawaslu setempat juga menerbitkan rekomendasi diskualifikasi Paslon. Namun 3 dari 5 komisioner KPUD di sana berani mengambil sikap berbeda. Mereka menolak rekom dari Bawaslu.

Kasus yang sama juga pernah terjadi di Pilwalkot Parepare 2018 silam. Konteksnya persis seperti yang dialami Ogan Ilir hari ini. Bawaslu dan KPUD sepakat mendiskualifikasi paslon petahana, Taufan Pawe – Pangerang.

Namun Paslon tersebut tidak menyerah begitu saja. Tidak tanggung-tanggung, mereka tempuh empat jalur perlawanan hukum sekaligus sebagai jawaban.

• Pertama, mereka layangkan gugatan atas putusan diskualifikasi oleh KPUD ke Mahkamah Agung.

• Kedua, menyurati Bawaslu provinsi terkait kredibilitas dan profesionalitas Panwaslu setempat.

• Ketiga, melaporkan balik KPUD dan Panwaslu ke DKPP.

• Terakhir, melaporkan KPUD ke kepolisian dengan tuduhan melakukan tindak pidana pelanggaran aturan.

Jalur hukum yang ditempuh tidak sia-sia. Pasangan Taufan – Pangerang berhasil memenangkan gugatan di MA. Mereka akhirnya diperbolehkan kembali mengikuti perhelatan Pilkada. Tidak hanya itu, paslon petahana tersebut secara dramatis keluar sebagai pemenang Pilwakot Pare-pare dengan selisih suara tak lebih dari 2,3 persen.

Belajar dari dua kasus di atas, keputusan KPUD ogan ilir, sekali lagi, bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Secara de jure memang bersifat final. Namun de facto, keputusan tersebut adalah awal dari perjuangan. Masih ada jalur hukum yang bisa ditempuh. Ada segudang ikhitiar yang masih bisa diamalkan untuk menjemput takdir kemenangan.

Tetap semangat dan terus berdoa. Rapatkan barisan dan jaga soliditas. Jangan putus asa. Lanjutkan gerakan menarik simpati rakyat dengan cara-cara yang elegan terhormat. Sebuah kemenangan suci lahir dari cara-cara yang bersih, bukan dari sentimen iri dan dengki.

Sebagai pamungkas tulisan, saya ingin mengutip satu kalimat penggugah dari Ketua Tim Pemenangan 02, Gunhar Paduka, “Semakin Keras Pertarungan, Semakin Nikmat Kemenangan”. (***)

Penulis: Bambang Yusantra
(Divisi Konten dan Kampanye Pasangan Ilyas-Endang)

Komentar

News Feed