oleh

PILKADA KOTA PALEMBANG 2023/2024 “BELANDO MASIH JAOH”

PILKADA KOTA PALEMBANG 2023/2024 “BELANDO MASIH JAOH”

“Bidak diumpankan agar raja bisa menggapai singgasana ?

TRIBUNPOS PALEMBANG – Ini analogi yang saya buat untuk memperkuat dugaan saya terhadap dinamika politik kota Palembang. Ya meskipun relatif masih 3 atau 4 tahun lagi pilkada di gelar, namun ibarat bunga yang penuh madu, pilkada kota Palembang selalu menarik minat bagi publik untuk didiskusikan.

“Belando masih jauh” itu kalimat guyonan sekaligus sindiran yang acap saya pakai manakala ada teman atau kolega bertanya tentang prediksi peta politik pilkada kota Palembang. Terlalu dini untuk membuat kalkulasi politik terhadap beberapa figur kandidat yang telah muncul namanya di berbagai media dan perbincangan publik.

Namun tak apalah, hanya sekedar berwacana kosong saya mencoba mem-peta-kan para calon kandidat yang mungkin sudah menunjukkan sinyal-sinyal untuk maju dalam pilkada 2023/2024 nanti.

Yang pertama, sebut saja H Nasrun Umar (HNU) Sekda Provinsi yang telah melakukan berbagai langkah politik, baik sosialisasi dan interaksi, maupun konsolidasi melalui relawan Dulur HNU. Disamping itu HNU juga sudah mulai mendekati beberapa Papol yang memiliki kursi di DPRD Kota Palembang.
Pendapat saya tingkat keseriusan HNU untuk maju sudah 75-80 %, dan hanya situasi force majeur saja yang bisa menghalangi niatnya.

Yang kedua, tentu saja Fitrianti Agustinda (FA) Wawako Palembang, tak kalah gencarnya selain menjalankan tugas-tugas kedinasan, namun tak bisa dipungkiri juga mulai menggerakkan mesin birokrasi dan mesin politik guna bersosialisasi dan konsolidasi, dan itu jelas aroma persiapan untuk melangkah ke tahap kontestasi.

Namun kegagalan Fitri utk mengambil tampuk pimpinan PDIP Kota Palembang, sedikit banyak akan menghadapi “handicap” untuk mendapatkan dukungan partai banteng.

Yang ketiga, adalah salah satu tokoh sentral yang memiliki akses kuat untuk menggerakkan mesin birokrasi adalah Ratu Dewa (RD) Sekda, kota Palembang yang sarat dengan pengalaman di organisasi kepemudaan boleh disebut sebagai tokoh pergerakan/aktifis.

Meskipun tidak memiliki warna partai, namun kemampuan komunikasi RD cukup handal, bisa saja beliau akan mendapatkan dukungan dari Parpol, dan konon Harnojoyo cukup nyaman didampingi RD selama berjalannya roda pemerintahan kota Palembang.

Yang keempat, saya masukkan Akbar Alvaro, anggota DPRD Kota Palembang kader Partai Gerindra, yang notabene juga adalah politikus dan pengusaha yang pernah berpengalaman menjadi Calon Walikota pada pilkada thn 2018 yang lalu.

Namun Akbar Alvaro patut memperhitungkan kader Gerindra lainnya, yang mungkin saja akan muncul dan berebut dukungan partai.

Yang kelima, saya mencoba memasukkan nama M. Hidayat (Dayat), ketua Partai Golkar kota Palembang. Dengan keberhasilan Dayat memegang tampuk kepemimpinan Partai Golkar, maka patut di prediksi Golkar akan memajukan kadernya untuk bertarung dlm pilkada kota Palembang.

Namun Dayat juga perlu berhitung jika ada kader Golkar yg di dropping oleh DPD Provinsi utk maju sebagai calon.

Yang keenam H Umar Halim, politikus PAN yang notabene putra H Halim, tokoh pengusaha konglomerat ternama yang banyak menguasai lahan perkebunan di Sumsel.

Mohon maaf saya kurang menghimpun referensi tentang figur tokoh ini , karena yang saya tahu hanyalah secuil info bahwasanya saat ini beliau masih berkutat dalam kemelut internal PAN yang berkaitan dengan Muswil PAN yang lalu.

Yang ketujuh, H. Sarimuda (SM) tokoh mantan birokrat yang sekarang aktif sebagai Direktur PT. SMS yang mengelola proyek KEK Tanjung Api-api. Beliau juga bukan orang baru dalam percaturan politik kota Palembang, dan “nyaris” menduduki jabatan Walikota Palembang tahun 2013 lalu. Mengapa saya urutkan beliau pada kandidat nomor 7 karena belum ada tanda-tanda maupun gerakan politik beliau yang menunjukkan sinyal akan maju kembali.

Yang kedelapan, H. Mularis Djahri (MD) tokoh pengusaha konglomerat yang cukup ternama di kota Palembang, juga punya pengalaman menjadi calon Walikota Palembang. Begitupun MD tidak atau belum menunjukkan sinyal untuk maju kembali.

Yang kesembilan, Hj Percya Leanpuri.(PL) anggota DPR RI yang notabene merupakan putri Gubernur Sumsel H Herman Deru (HD), tokoh wanita muda yang punya prestasi politik cukup mumpuni, yakni pernah menjadi senator (DPD RI) dan saat ini pindah kapling menjadi legislator (DPR RI).

Meski belum ada sinyal yang pasti dari PL untuk maju, namun kontestasi pilkada OKU Timur bisa saja menggiring niat HD utk melakukan kalkulasi politik di kota Palembang, karena mau tidak mau kota Palembang adalah medan pertempuran paling strategis dalam peta kekuatan politik pilkada Gubernur thn 2023/2024, apalagi kota Palembang pernah dipimpin oleh kakek PL, yakni bapak H. Husni selama 2 periode.

Yang kesepuluh Hj. Lury Elza Alex (LEA), putri mantan gubernur Alex Noerdin (yang saat ini duduk di DPR RI). Juga pernah memiliki pengalaman untuk maju sebagai balon Walikota/Wakil Walikota (meskipun tidak meneruskan niatnya hingga mendaftar di KPU). Mendorong Lury adalah upaya yang mungkin akan dilakukan agar klan Alex Noerdin tetap eksis dalam pusaran politik di Sumsel, khususnya jika Dodi Reza Alex (DRA) akan maju kembali pada pilgub 2023/2024.

Yang kesebelas, munculnya nama ini cukup menarik dan sedikit kejutan.
Ya terus terang saya agak berspekulasi bahwa akan “comeback” tokoh perubahan kota Palembang menjadi kota metropolitan dan kota Internasional ditangan tokoh ini, oleh sebab itu saya cukup berani memasukkan nama H. Eddy Santana Putra (ESP) anggota DPR RI dan juga mantan Walikota Palembang 2 periode.

Jika UU pilkada dan Peraturan KPU (yang infonya akan diamandemen) tetap memperbolehkan mantan kepala daerah yang sudah menjalani jedah waktu setelah masa jabatannya berakhir untuk mencalonkan diri, maka feeling saya ESP akan mempertimbangkan dengan kalkulasi yang matang.

Memang di beberapa medsos saya melihat ada postingan tentang putra ESP untuk dipersiapkan sebagai pengganti beliau menjadi politikus masa depan. Namun saya sangat tidak yakin bahwa itu memang target prioritas ESP untuk pilkada thn 2023/2024, bisa saja untuk memanfaatkan momen tersebut sebagai ajang promosi dan sosialisasi bagi Aji putra ESP, atau sebagai selubung bagi gerakan politik ESP yang sesungguhnya.
Inilah maksud dari analogi yang saya sebutkan di tampuk tulisan, Bidak diumpankan agar raja bisa kembali menduduki singgasana. Oleh karena itu bagi saya sangat logis jika memang ESP comeback, ini “warning” bagi kandidat lainnya.

Tentu masih hangat diingatan kita bagaimana ESP berhasil terpilih dan duduk di DPR RI. Beliau relatif hanya menggunakan cost politik yg sangat effisien, dan itu disebabkan salah satu faktornya adalah ingatan sekaligus empati masyarakat pemilih atas keberhasilannya saat memimpin kota Palembang.

Itu daftar untuk cluster satu, artinya mereka para kandidat yang mungkin akan menjadi prioritas bagi lembaga survey atau para analis politik untuk diulas.

Lantas pada cluster dua, dengan tidak bermaksud mengatakan sebagai cluster underdog, saya coba menginventarisir nama-nama berikut yang mayoritas para kader partai :
Kesebelas, Yulian Gunhar (YG), ketua DPC PDIP kota, Palembang yang juga,duduk di DPR RI. YG sangat layak dipertemukan karena dalam kapasitas jabatan pemegang prioritas, PDIP Kota Palembang maka beliau sudah memiliki modal politik yang strategis, dan miliki modal bargaining dengan kandidat-kandidat lainnya.

Keduabelas, saya sebut nama Firman Hadi (FH), politikus dari PKB juga anggota DPRD Kota Palembang. Saya pikir FH memiliki modal spirit yang kuat bila berniat maju, karena saudara kandungnya adalah Walikota Jambi yang saat ini sedang mencalonkan diri menjadi Calon Gubernur Jambi, dan jika berhasil tentu FH akan mendapatkan dukungsn penuh dari Pasha. Namun FH harus mempertimbangkan niatnya, karena bukan tidak mungkin ketua DPC PKB ataupun Ketua DPW PKB juga punya agenda politik dalam pilkada kota Palembang 2023/2024.

Kemudian Zainal Abidin, ketua DPRD Kota Palembang keder Partai Demokrat, yang cukup fenomenal, karena pada pileg 2019 hampir meraih suara untuk 2 kursi.

Tokoh yang satu ini termasuk rising star di konstelasi politik kota Palembang.
Dan termasuk pula Ahmad Zulinto, tokoh birokrat sekaligus tokoh pendidikan, yang sempat digadang-gadang untuk tampil dalam kontestasi pilkada kota Palembang, tokoh ini patut diperhitungkan.

Cluster tiga :
Ketiga belas, Saya membatasi terawangan imajinatif ini di angka tigabelas, yang bagi orang-orang penganut mistik dianggap angka sial dan selalu dihindari menggunakan angka ini.
Saya masukkan beberapa nama sekaligus yang bisa saja menjadi underdog, antara lain : Abdullah Taufik, Ruspanda, Tamtama, Handy Pratama, Sutami, Ali Syakban, Sri Wahyuni , Eva Susanti, Amaliah Sobli, Jyalika IPA, Hj. Asmawati (politikus), dan Ahmad Najib, Sinta Raharja, Saidina Ali, Kgs A. Rozak, Wijaya (birokrat, akademisi dan profesional).

Dan, jika nanti saya sendiri cukup punya kegilaan dan kenekatan, maka mungkin boleh ya kalau saya selipkan satu nama, SR 😅😅😅 (intermezo bro !)

Salam takzim,
KANAL ASPIRASI
Dewan Presidium

Suparman Romans

Komentar

News Feed