oleh

MENAKAR KANDIDAT BALON WAKO/WAWAKO PADA PILKADA KOTA PALEMBANG 2023/2024

MENAKAR KANDIDAT BALON WAKO/WAWAKO PADA PILKADA KOTA PALEMBANG 2023/2024

Suparman Romans

TRIBUNPOS PALEMBANG – Cukup banyak dan beragam respon para sahabat baik dari kalangan politisi, pengamat, akademisi hingga aktifis Ormas dan LSM terhadap tulisan saya tentang PILKADA KOTA PALEMBANG 2023/2024 ” BELANDO MASIH JAOH”.
Oleh karena itu saya mencoba untuk sedikit memperdalam ulasan saya setelah ada kesempatan berkomunikasi dan sharring dengan salah seorang sahabat saya yang berkompeten dalam hal ilmu politik.

Ya saya beruntung memiliki sahabat-sahabat dari beragam disiplin ilmu dan profesi untuk menambah referensi saya, salah satunya adalah Mulyono Misman (MM), sahabat dalam banyak diskusi tentang teori-teori politik.
Dari beliaulah saya banyak mendapat referensi tentang ilmu politik dalam indikator analisis akademik, sementara saya jujur saja hanya memiliki wawasan politik secara otodidak dari beberapa pengalaman sebagai praktisi politik.

Saya mengutip tanggapan beliau atas tulisan saya yang dalam istilah beliau menyebutnya anatomy “Political Spirits” yang secara teoritis membagi posisi kandidat dalam 3 cluster, yakni :
1. Yang bersemangat
2. Yang berminat
3. Yang berharap

Beliau seolah memberi PR kepada saya untuk menjabarkan kategori ketiga cluster tersebut.
Dan saya mencoba menjabarkannya sesuai pemahaman dan wawasan politik yang saya kuasai secara otodidak seperti yg telah saya sebutkan diatas.

PERTAMA :
Yang bersemangat jelas masuk pada cluster 1.
Para kandididat di cluster 1 cenderung memiliki rasa kepercayaan diri serta keyakinan yang kuat, mereka yakin sekali jikapun pilkada diselenggarakan lebih cepat maka pihaknya akan mampu meraih kemenangan, dan keyakinan itu bukan tanpa alasan.
Persiapan yang sudah dilakukan jauh-jauh hari dengan konfidensi diri, kesiapan amunisi, jaringan relawan, gerakan politik yang masive dan terstruktur, dan tentu saja akses komunikasi yang kuat dengan parpol, adalah alasan yang logis jika kandidat tersebut memiliki semangat tinggi untuk menjadi kontestan pada pilkada kota Palembang.

Setelah menyimak dinamika terakhir maka tokoh-tokoh yang saya kelompokkan di cluster 1 antara lain : HNU, FA, RD, AA, ZA, AZ, SF, MH (dan beberapa tokoh yang dalam kesempatan lain juga akan saya ulas). Dari berbagai aktifitas para tokoh-tokoh tersebut yang bersentuhan langsung dengan masyarakat (pemilik suara ?) sangat terasa aroma konsolidasi dan sosialisasi untuk lebih mempertajam jatidirinya sebagai kandidat balon wako/wawako.
Kegiatan silaturahmi, pembentukan jaringan partai, relawan dan posko-posko, program kepedulian sosial dan bentuk gerakan humanisme lainnya, termasuk memasang berbagai tagline publikasi terhadap sosok tokoh dimaksud adalah sinyal dari sebuah ancang-ancang untuk masuk dalam ranah kontestasi bakal calon.

Mungkin setelah usainya masa kepemimpinan Harnojoyo yang telah dua periode menjabat sebagai walikota, maka dianggap posisi kursi nomor 1 tersebut ibarat singgasana tak bertuan.
Bagaimana posisi FA jika beliau maju sebagai kandidat memperebutkan posisi Nomor 1 ?
Meskipun secara historis politik, tradisi wakil walikota sebagai pewaris tahta biasanya relatif lebih terbuka peluangnya dibandingkan para kandidat “challenger”, namun di era millenial saat ini, pakem tersebut belum dapat diyakini sepenuhnya, karena sungguh banyak faktor yang harus diperhitungkan dan dianalisa dalam mengkalkulasi peluang FA (salah satunya dukungan dari parpol sebagai syarat dalam memenuhi persyaratan di KPU).
Oleh karena itu FA harus bekerja keras jika ingin perjuangannya sukses. Peluangnya untuk menguasai mesin birokrasi hanyalah jika dia mampu mendapat dukungan sepenuhnya dari Hj dan RD (dgn catatan RD tidak maju, atau bahkan mungkin FA berpasangan dengan RD ?) , karena loyalitas mesin birokrasi tergantung dari tiga simpul kekuasaan ini.
Jika tidak, maka akan terjadi faksi-faksi dukungan yang justru akan saling melemahkan kekuatan masing-masing.
Patut diingat, mesin birokrasi sudah teruji sangat efektif dalam menentukan sebuah kemenangan di Pilkada manapun, karena rantai komandonya jelas dan garis hirarkinya pun tegas.
Saya pikir asumsi ” singgasana tak bertuan” inilah yang diyakini oleh HNU sehingga beliau sangat gencar dan agresif untuk menggalang kekuatan dengan melakukan berbagai gerakan konsolidasi maupun sosialisasi.
Dan konon HNU sudah melakukan komunikasi politik dengan beberapa Parpol yang memiliki kursi di DPRD Kota Palembang, dengan diinisiasi oleh kreator politiknya seorang politisi senior, HAS.

Meski antara FA dan HNU masih terdapat hubungan kekeluargaan yang sangat dekat, namun dalam konteks kepentingan politik rasa ewuh pakewuh tersebut bisa saja sementara dikesampingkan, yang penting bagi keduanya adalah komitmen untuk membangun kota Palembang menjadi lebih maju dan sejahtera dari sebelumnya. Dan satu PR bagi FA, akan kemana dukungan PDIP berlabuh ? Apakah kepada dirinya atau lari ke pihak lain ? Karena realitanya FA tidak memegang kendali pucuk pimpinan di partai banteng moncong putih ini, bisa saja YG sebagai ketua DPC PDIP punya agenda lain.

Dalam posisi yang lainnya, patut dicermati sosok tokoh birokrat RD.
Jelas dimata para kandidat lainnya, RD menjadi tokoh sentral yang patut dilirik dan diperhitungkan. Kedekatan RD dengan Hj dapat dilihat dan dirasakan dalam berbagai kebijakan-kebijakan pemkot khususnya untuk hal-hal yang bersifat strategis. Boleh dikatakan kendali operasional di kalangan birokrat cenderung dikelola langsung oleh RD dalam kapasitas sebagai Sekda.
Dan RD mungkin saja menjadi sinyal sekaligus kartu truf bagi Hj untuk melakukan bargaining politik dengan siapapun yang akan maju menjadi balon Walikota/Wakil Walikota.
Apakah RD akan didorong oleh Hj menjadi nomor 1 atau nomor 2 , atau bahkan tetap dikondisikan pada posisinya saat ini (note : dari segi usia RD masih sangat potensial untuk meneruskan karir di birokrat), Wallahualam, hanya Hj dan RD yang tahu.

Bagi saya RD layak di perhitungkan oleh kandidat lainnya. Sebagai tokoh pergerakan yang digodok dalam kawah candradimuka “KNPI” dan “OKP PMII”, maka kelompok nahdiyin akan dengan senang hati dan pasti siap berjibaku mendukung serta memperjuangkan beliau jika RD jadi maju.

Berikutnya AA, seorang tokoh politisi muda yang cukup mengejutkan kehadirannya dalam panggung politik di kota Palembang saat maju sebagai cawako pada pilkada thn 2018 dari jalur independen. Kesuksesan untuk lolos sebagai calon independen adalah bukti bahwa AA punya modal suara dukungan yang mengakar di masyarakat pemilih. Meskipun dalam pilkada tersebut AA belum mampu mengungguli 3 pasang kandidat lainnya, namun keberhasilan untuk lolos sebagai calon menurut saya menjadi modal spirit yang kuat bagi AA untuk mengembangkan karir politiknya di ranah eksekutif, karena saat ini AA adalah seorang anggota legislatif. Euforia kemenangan besar suara partai gerindra saat pilleg 2018 dan pilpres 2019 di kota Palembang akan dijadikan modal politik yang kuat bagi AA untuk melakukan bargaining politik dengan kandidat lainnya, tentu dengan catatan jika elit partai gerindra tidak menyodorkan kader lain. Karena menurut hemat saya Gerindra adalah partai yang sangat dinamis dan sering membuat keputusan-keputusan politik yang mengejutkan.

Seorang tokoh politik lagi yang saya tampilkan, yakni ZA. Salah satu rising star di partai Demokrat yang berhasil menghantarkan dirinya menjadi ketua DPRD Kota Palembang dengan perolehan suara hampir mencapai 2 kursi di dapilnya, dan mengangkat posisi partai Demokrat menjadi kampiun dl pileg kota palembang tahun 2019. Meski terkesan low profil, namun sebagai seorang politikus sangat wajar dan logis jika ZA juga memiliki obsesi untuk kelak masuk dalam ranah eksekutif dengan jabatan politis (Wako atau Wawako). Namun ZA termasuk tokoh yang loyal dengan Hj, jadi apakah beliau akan maju atau tidak, feeling saya masih bergantung pada kebijakan Hj. Ataupun jika dari elit partai Demokrat di pusat menginginkan kadernya maju, maka yang paling representatif untuk didorong adalah ZA.
Tinggal bagaimana ZA melakukan personal branding untuk menaikkan tingkat popularitas dan elektabilitasnya di seluruh lapisan masyarakat kota Palembang, bukan hanya menguasai dapilnya saja. Partai Demokrat pasti sangat mempercayai lembaga survey sebagai dasar untuk menetapkan dukungannya thd kader partai yang akan maju.

Kemudian saya tampilkan sosok MH, yang notabene adalah tokoh politisi muda ketua DPD Partai Golkar kota Palembang. Meski terjadi penurunan perolehan kursi di DPRD Kota Palembang, namun tentu saja MH tidak boleh dianggap sepele oleh kandidat lainnya. Suksesnya MH untuk menakhodai kembali Partai Golkar kota yang baru sebulan digelar, menunjukkan kepiawaian MH beserta timnya untuk “Melunakkan hati” ketua DPD Partai Golkar Provinsi DRA, sehingga mendapat restu bahkan ditugaskan agar kader Partai Golkar harus ikut dlm kontestasi pilkada kota Palembang tahun 2023/2024.

Bagaimana peluangnya ? Waktu 3 tahun masih cukup untuk menyusun dan menerapkan strategi pemenangan. Patut diingat, partai Golkar adalah partai yang bergerak dengan sistem mesin organisasi yang sudah mengakar.

Kemudian selanjutnya sosok AZ, tokoh birokrat sekaligus tokoh dunia pendidikan. Sebagai oang yang cukup matang berkecimpung di pemerintahan khususnya dunia pendidikan.
Pengaruhnya yang kuat di lingkungan PGRI sebagai ketua provinsi, dan kemampuan komunikasinya dengan berbagai kalangan termasuk partai politik, bisa dijadikan modal serta keyakinan bagi dirinya untuk mendapatkan dukungan politik. Bahkan dari berbagai informasi saat ini AZ terus menjalin komunikasi dengan beberapa kandidat yang digadang-gadang akan maju dalam pilkada nanti, apakah beliau juga sudah membangun koalisi politik untuk saling menjajaki bargaining posisi untuk berpasangan ? Terlalu dini untuk menyimpulkannya, tetapi dimata saya AZ termasuk tokoh yang cukup intens dalam membuka ruang komunikasi politik.

Dan sayapun tertarik untuk menampilkan sosok politikus PKS yang satu ini. SF. Tokoh yang satu ini tampaknya selain ingin menunjukkan kapasitas dan integritasnya sebagai politisi handal, juga ingin membawa faktor sentimen etnis menjadi issue sosialisasi dan personal brandingnya.
Label sebagai tokoh “wong Palembang Asli” memang layak dijual sebagai isu emosional dalam menarik simpati warga pemilih.

Bersambung …
(Mohon maaf karena sudah mencapai batas maksimal)

Salam takzim,
KANAL ASPIRASI
Dewan Presidium

Suparman Romans

 

Komentar

News Feed