oleh

Memimpin Itu Menderita

Oleh:
Robby Patria
(Aktivis dan Akademisi)

Malaysia, 15 April 2019
Di University Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM)


KITA merindukan pemimpin seperti Natsir yang menyerahkan kursi menteri ke Presiden Sukarno lalu pulang ke rumahnya dengan naik sepeda bersama ajudannya. Sang ajudan bertanya, mengapa tidak naik mobil? Natsir menjawab,” Biar saya terbiasa.” Sang ajudan pun meneteskan air mata. Bagaimana pula mantan pejabat tinggi Indonesia pulang naik sepeda.

Kemudian Agus Salim, sang singa podium. Penulis barat menyebutnya pemilik segalanya. Tapi dia tak mampu untuk membuat hidupnya nyaman. Itulah kelemahan Agus Salim daripada banyak kekuatannya. Menguasai 9 bahasa asing fasih. Bahkan pidato di depan forum ILO setiap paragraf dengan bahasa Jerman, Prancis, Inggris, Belanda, tentu membuat sidang ILO terkaget kaget. Sosok dengan kopiah di kepala, dan janggut serta baju yang tidak necis, tapi mampu berpidato dengan 9 bahasa asing.

Tapi Agus Salim harus rela tinggal di rumah di hang sempit. Karena dia bukan mengejar materi tapi bagaimana kemampuannya berguna bagi tanah airnya. Williem Schermerhon dalam bukunya Het dagboek van Schermerhorn (1970) mengatakan, Agus Salim orang tua yang cerdas dalam bidang bahasa, ia hanya punya satu kelemahan yakni selama hidupnya melarat.

Bagaimana Umar Abdul Azis mematikan lampu rumahnya ketika anaknya mengajak bicara. Anaknya bertanya, “Mengapa ayahanda mematikan lampu? “Karena lampu itu dibeli minyaknya dengan dana rakyat, saat ini kita bicara bukan atas nama rakyat,” jawab Umar Abdul Azis.

Pun ketika Umar bin Khattab tidak mau anaknya dicalonkan menggantikan dirinya. Umar beralasan, “Cukuplah saya yang menerima segala pertanggungjawaban atas kepemimpinan ini dunia dan akhirat. “Jangan dibebani kepada anak anak ku lagi,” kata Umar memberikan alasan. Padahal Ibnu Umar dinilai layak menjadi Khalifah saat itu.

Pun kisah legendaris dari Jogja, bagaimana seorang ibu- Ibu menghentikan mobil lewat kemudian minta diantar ke Pasar Beringharjo. Kemudian ibu itu turun, lalu minta diturunkan bawaannya oleh sang supir. Kemudian supir itu membantu menurunkan barang bawaan ibu itu. Ketika ibu tersebut ingin membayar, maka supir tidak mau. “Saya hanya ingin membantu ibu,” ujarnya seraya pergi dengan senyuman.

Lantas ibu tadi dihampiri pengawai di sekitar Beringharjo, lalu dia berkata kepada ibu tadi. “Apakah ibu tahu siapa yang tadi mengantar ibu? Dia adalah Sultan Hamengku Buwono IX.” Mendengar ucapan tersebut, ibu tadi pun pingsan. Ia kaget betapa sosok yang dikagumi se-Nusantara itu mau membantunya. Itulah kisah pemimpin dan sosok pahlawan Indonesia yang mengabdi tulus untuk melayani rakyatnya. Bukan menjadi yang dilayani.

17 April 2019, kita memerlukan pemimpin dan wakil wakil rakyat seperti nama nama disebutkan di atas. Andaikan tidak mampu, maka minimal 10 persen pun dari jiwa kepemimpinan dan sikap mereka dalam melayani rakyat layak ditiru.

Karena memimpin itu bukan mencari harta untuk keluarga maupun kelompok. Memimpin itu untuk melayani dan menghabiskan segala kekuatan untuk rakyat. Pun kisah Presiden Amerika yang terkenal Thomas Jefferson, habis jabatan presiden meninggalkan sejumlah utang pribadi. Karena dia tidak mau membebani anggaran negara ketika menjamu tamunya. Alhasil, setelah berhenti menjabat presiden dia pun berhutang. Bukan memiliki kekayaan.

Di Indonesia Wakil Presiden Muhamad Hatta, tidak mampu beli sepatu bally. Bayangkan saat ini di gedung DPR RI, parkiran di sana seperti show room mobil mewah. Karena memang politisi kita suka dengan penampilan parlente. Padahal rakyat Indonesia di sana menurut laporan Bank Dunia masih 62,2 persen hidup di bawah 5,5 dolar AS per hari. Artinya sekitar 77 ribu.

Masih ada waktu untuk kita sebagai pemegang kedaulatan atas negara ini dalam menentukan pilihan sebelum kita hanya gigit jari. Suara kita diabaikan. Mereka menjadi terhormat dan gila hormat. Bahkan di dalam rapat harus dipanggil yang terhormat.

Inilah waktu itu. Tentukan pilihan yang kira-kira menjadi sosok yang amanah dalam memegang amanah. Yang punya kemampuan bukan kemampuan duit semata. Selamat memberikan hak suara. Semoga kita dapat bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri. (**)

Editor: Sandi Pusaka Herman

Komentar

News Feed