oleh

Mengintip Hobi Danbrigif Kolonel (Inf) Slamet Riadi dengan Motor Antiknya

MILITER, Tribunpos.com | Di balik kemajuan alutsista di kesatuannya, sang komandan memiliki pandangan yang berbanding terbalik. Ia justru cinta dengan kendaraan antik atau bisa dikata tua.

Berikut Liputan Wartawan Andhika Attar :

Treaaang… taaaang…. taaaang…. taaaang…. taaaang…. taaaang…. Raungan knalpot memecah hening. Suaranya nyaring, berbanding terbalik denga gaya berkendara sang penunggangnya.

Tak kunjung datang. Kuda besi itu seakan melambatkan jalannya. Atau tampaknya memang tak mau terburu. Menikmati setiap jengkal jalan yang dilalui. Namun, gelagat berbeda diperlihatkan para prajurit di kawasan Brigif Mekanis 16/Wira Yudha. Seakan dikomando, beberapa prajurit terlihat kompak. Badannya tegap, tangannya memberi hormat.

“Siap, Komandan!” ujar prajurit yang berjaga dengan lantang. Penuh wibawa, sang pengendara menebarkan senyuman. Ia adalah orang nomor satu di sana. Sang Komandan Brigif Mekanis 16/Wira Yudha Kolonel (Inf) Slamet Riadi.

Prajurit di sana sudah hafal betul dengan suara knalpot motor komandan. Dari kejauhan, jika terdengar suara tersebut, mereka pasti langsung mengambil sikap. Saking sudah dihafal, jika motor dikendarai orang lain pasti dikira sang komandan.

“Saya pernah diminta komandan menaikinya, banyak yang mengira kalau saya komandan,” ujar salah satu ajudan Danbrigif Mekanis 16/Wira Yudha itu.

Mengemban tugas sebagai Danbrigif tak membuat Slamet berjarak dengan para prajuritnya. Ia justru sering melempar canda atau guyonan. Slamet pun dikenal ramah dan murah senyum. Dia terbiasa berkeliling kawasan markasnya dengan motor hitam kesayangannya. Sekadar memantau keadaan atau berangkat ke kantor dari rumah dinasnya. Siapa sangka motornya jauh dari kesan baru dan mewah.

Slamet justru lazim mengendarai Kawasaki GTO 81. Cukup kontras dengan citranya sebagai orang yang “berpengaruh” di kesatuan. Bukan tidak mungkin ia bisa memiliki kendaraan yang lebih mewah. Namun, Slamet memilih motor antik menjadi tunggangannya.

Kecintaannya tersebut bisa dibilang belum lama ini. Pria yang hobi olahraga tersebut baru sekitar tiga bulan lalu meminang sang kuda besi. Meskipun sejatinya ia sudah sejak lama bermimpi memilikinya.

“Sudah lama ingin punya, juga sudah berusaha mencari. Tapi memang santai carinya,” akunya. Slamet enggan terlalu menggebu mencari kendaraan impiannya. Selain karena kesibukannya yang padat, ia yakin kalau jodoh pasti bertemu.

Keyakinannya bersambut. Suatu ketika saat berkunjung ke Desa Joho, Wates, Slamet menemukan sepeda motor tambatan hatinya. Ia pun menegosiasi dengan si empunya. Dengan sebuah mahar tertentu, motor tersebut pun berhasil dipinang.

Cinta tak selalu datang dengan wajah terbaiknya. Terkadang usang. Terkadang meradang. Begitu pula yang dialami Slamet dengan motornya. Kondisinya jauh dari sekarang.

“Dulu saya dapat itu tangkinya bocor. Kalau diisi bensin pasti keluar lagi,” kenang alumnus SMAN 3 Bandung ini.

Kuasa cinta semakin terbukti ketika diuji. Slamet merasa lebih sayang dengan motornya. Berbagai perawatan dan perombakan pun dilakukan. Bahkan ia menemukan sesuatu yang berbeda ketika menggeluti hobi dan kecintaannya itu.

Dengan merawat motor antiknya, Slamet mengaku, mempelajari nilai kesederhanaan. “Nilai seni dan sejarahnya itu yang tidak dapat dirupakan dengan materi,” ujar pria yang hobi renang ini.

Pernah suatu ketika ada yang menawarkan sebuah motor gede (moge) 500 cc kepadanya. Namun dengan mantap Slamet menolaknya. Menurutnya, naik moge tidak mencerminkan kesehariannya. Slamet ingin tetap sederhana.

Setiap orang memiliki citra dan ciri khas. Pun dengan sang komandan. Slamet memilih dikenal orang dengan pribadi yang merakyat. Sebuah kesederhanaan yang dipelajarinya dari sebuah motor tua. (Red)

Sumber : Jawa Pos

Komentar

News Feed