oleh

Manusia Perak Eksplorasi Seni Atau Eksploitasi Kemiskinan?

-Opini-181 views

Manusia Perak Eksplorasi Seni Atau Eksploitasi Kemiskinan?

Sungguh terasa sangat beda pemandangan di dua bulan terakhir, hampir disetiap persimpangan lampu merah mereka muncul.
The silver men, manusia perak !
Ya, saat pertama saya melihat para manusia perak ini, muncul empati dan terbersit dalam hati bahwa seni kontemporer sedang diperagakan oleh para pantomimers. Karena di beberapa kota metropolitan seperti Jakarta, Bandung, Yogya, dan lainnya para pantomimers mengekspresikan kreatifitas seni kontemporer mereka dengan menciptakan manusia patung dibalut cat warna perak.
Dan saya sempat terpengaruh secara emosional serta memiliki ekspektasi terhadap kehadiran manusia perak ini. Karena saya pernah berkecimpung didalam dunia seni maka secara, naluriah saya memberikan beberapa puluh ribu kepada mereka dan mengacungkan jempol saya.


Namun setelah seminggu saya mengawasi tingkah mereka , mulai muncul perasaan kurang nyaman, karena pola mereka disetiap persimpangan lampu merah dimana saya rutin melewati jalan tersebut, tidak ada sedikitpun kreasi seni yang saya lihat.

“Maka rasa empati yang muncul diawal saya menjumpai manusia perak ini berangsur mulai pudar berganti rasa kesal dan kecewa”

Ternyata bukan eksplorasi seni patung kontemporer dan seni pantomim yang ditampilkan para manusia perak ini, justru lebih cenderung sebuah aktifitas eksploitasi kemiskinan dan upaya memanipulasi seni, dan bagi saya ini sebuah pencederaan nilai – nilai seni.

Jika anda termasuk orang yang agak kepo seperti saya, maka sangat terasa ini adalah kerjaan oknum yang memobilisasi para manusia perak ini untuk kepentingan bisnis, dengan mendisain mereka seolah – olah para pelaku seni, namun kenyataannya tidak lebih dari para pengemis jalanan, yang dimodifikasi atribut serta penampilannya dengan identitas para seniman pantomim dan seniman kontemporer.

Perhatikan saja pola tampil mereka, disaat kendaraan kita berhenti di trafficlight, para manusia perak ini langsung mendekati kendaraan dan memberi hormat, sementara ditangan satunya menadahkan kaleng untuk meminta uang, persis seperti pengemis. Tidak ada kreasi seni yang ditunjukkan tetapi seolah-olah sebuah gerakan yang monoton, memberi hormat dan menyodorkan kaleng sumbangan.
Dan saya berani menyimpulkan ini bentuk mobilisasi manusia berkedok seni, dan mengekspolitasi kemiskinan. Para manusia perak ini beragam , dari segi usia maupun jenis kelaminnya. Dari usia dini hingga orang dewasa, laki – laki dan perempuan.

Jelas ini sebuah kejahatan sosial !

Lantas dimana aparat yang berwenang ?
Saya perlu bertanya kepada sahabat – sahabat saya di Dinas Sosial, Satuan Pol PP, apakah kemunculan para manusia perak ini memang tidak terdeteksi ? Apakah “hantu” yang jadi sutradara pengeksploitasi kemiskinan untuk kepentingan bisnis mereka tidak bisa terlacak.dan ditindak ?
Dan juga sahabat – sahabat saya para penggiat seni, apakah persepsi kalian beda dengan persepsi saya ? Mungkinkah dimata kalian bahwa manusia perak ini adalah sebuah karya seni dan ekspresi dari seniman kontemporer ?

Kalau memang demikian maka sayalah yg tolol dan naif,,ternyata saya memang buta tentang seni.

Salam takzim,

Suparman Romans
Pensiunan aktifis Teater 707
Mantan ketua Dewan Kesenian Palembang
Pensiunan group musik country Movet

Komentar

News Feed