oleh

Menengok Denyut Nadi Sepak Takraw di Kampung Tanjung Pinang

Meski sepak takraw olahraga asli Indonesia, tak banyak yang memainkannya. Namun setiap sore di Desa Tanjung Pinang, Kecamatan Tanjung Batu, olahraga itu tak pernah absen dimainkan.

Berikut penelusuran Tribunpos.com di Kampung Takraw Tanjung Pinang:

OGAN ILIR, Tribunpos.com | SORE telah jatuh di Desa Tanjung Pinang, Tanjung Batu, Ogan Ilir, Jumat (8/2/19). Seperti sore-sore sebelumnya, belasan anak muda memadati halaman sepak takraw di kampung yang terkenal sebagai pusat kerajinan pandai besi itu.

Kaki-kaki mereka dengan lincah melakukan tendangan demi tendangan pada bola yang terbuat dari rotan.

Ketika ada yang melakukan salto dan bola tendangannya menghunjam ke tanah, tepuk tangan warga yang menonton pun keluar.

Di desa yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan itu, sepak takraw tak pernah absen setiap sore dimainkan para anak muda kampung.

Selain sepak bola dan bola voli, sepak takraw telah menjadi pengisi hari-hari anak muda kampung Tanjung Pinang. Hampir setiap sore, olahraga tersebut dimainkan. Bukan saja oleh anak muda, orang dewasa dan anak-anak juga memainkannya.

Sepak takraw, olahraga asli Indonesia, sudah menjadi tradisi di kampung di tanah Melayu Sumatera. “Sebenarnya banyak anak-anak yang berbakat karena sudah terbiasa main sejak kecil,” ungkap Agoek, salah seorang warga yang menonton.

Agoek tidak sedang melebih-lebihkan dengan penilaiannya itu. Dari desa itulah banyak bibit atlet sepak takraw sekelas kabupaten bermunculan. Di desa itu pula olahraga menendang bola rotan ini tak pernah mati.

“Sepak takraw sudah jadi budaya di sini. Olahraganya sederhana dan mudah,” ujarnya.

“Dulu hampir setiap sudut desa ada lapangan untuk main sepak takraw. Tiap sore main,” katanya.

Selepas 2010, gairahnya sempat meredup. Usia para pemain yang dulu aktif di lapangan sepak takraw bertambah. Pertambahan itu diikuti pula dengan bertambahnya tanggungjawab kepada keluarga.

Prioritas bukan lagi bermain sepak takraw. Tapi lebih untuk mencari pekerjaan dan menyambung hidup. Mayoritas pekerjaan masyarakat adalah pengerajin besi. Di luar itu, banyak pemuda yang memilih merantau ke luar daerah. Maka, berkuranglah potensi-potensi untuk melanjutkan sepak takraw.

Namun, denyut sepak takraw tidak benar-benar berhenti di Kampung Tanjung Pinang, denyut itu terus dijaga dan dirawat, meski tidak seramai dulu. **

Penulis : Kaka Kertapati
Editor : Sandi Pusaka Herman

Komentar

News Feed