oleh

Desa Tanjung Pinang “Mencekam”, Simpang Jalan Masuk Desa Ditutup Total, Pendatang Ditolak Masuk

TRIBUNPOS, OGAN ILIR | Suasana riuh dan kepanikan terjadi di Desa Tanjung Pinang dan Limbang Jaya, Selasa (19/5/20) pasca diberlakukannya keputusan penutupan besar-besaran pasar desa oleh gabungan dari empat kepala desa setempat.

Banyak warga yang kebingungan, ada yang marah, senang, dan ada juga yang sedih. Pro dan kontra keluar dari mulut mereka. Karena mereka panik, ketika mendekati lebaran malah pasar desa (kalangan) ditutup. Sedangkan saat ini lah waktu untuk membeli bahan makanan untuk persiapan lebaran.

Belum lagi dengan banyaknya pembeli, berbanding terbalik dengan sedikit penjual, dikarena para pedagang dari warga pendatang yang biasanya berjualan, pagi tadi tidak dibolehkan masuk desa. Jelas kondisi ini membuat para ibu-ibu kesulitan mencari bahan pokok seperti sayur mayur, ikan, ayam, bahan bumbuh rempah seperti cabe, bawang, bahkan pakaian lebaran untuk anak-anak mereka. Tak ayal kondisi ini dijadikan kesempatan bagi pedagang nakal untuk menaikkan harga dagangannya.

“Iyo tadi di pasar ribut, berdesakan, berebut bebelian. Mano hargo dinaikan urang yang bejualan itu pulo. Walau baitu, tetap tak pacak lagi, mau tak mau dibeli tula. Biarpun melinyo dikit, kareno mahal,” ujar Mira (41) warga Desa Tanjung Pinang berkuman menceritakan kepada Tribun Pos.

Pantauan wartawan desa Tribun Pos, suasana mencekam terasa di simpang desa Tanjung Pinang. Terlihat barikade warga berjaga menutup simpang desa. Marungan dan kayu dipasang di tengah jalan simpang desa. Puluhan orang berjaga ketat, memeriksa siapa pun yang ingin masuk desa. Targetnya adalah para pedagang yang ingin jualan di kalangan hari ini (kalangan Selasa). Semua pedagang tak ‘pandang bulu’ ditolak masuk desa.

Jelas yang tak setuju berkumam mengkritik pemerintah desa. Namun tak sedikit juga yang setuju dengan keputusan terakhir pemerintah dari keempat desa untuk memutus mata rantai covid-19 dengan menutup pasar desa (kalangan).

Sikap setuju dan tak setujunya, bukan saja menjadi bahan perbincangan di pasar (kalangan), marungan dan rumah-rumah warga. Reaksi ini juga menjadi top topik perbincangan hangat di media sosial, khususnya di facebook. Kata pujian, dukungan, kritikan dan kadang bercampur cemo’ohan berseliweran di beranda komentar orang desa setempat. Bukan saja terlontar dari warga kampung sendiri, namun warga kampung yang merantau justru lebih antusias lagi membahas dan mengeluarkan statement-statmentnya di medsos Facebook.

Seperti yang ditulis oleh akun Saukani Saman dari Jambi.

“Kalau biso jangan sampai ditutup, ikuti saja protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat, sebab kalangan diri iko merupakan aset terbesar bagi pedagang, yang apo dijual disiko pasti ludes, alias tinggal wadanyo bae…Hhh…..,”

Statement menohok keluar dari akun atas nama Andre Kelana Jugo.

“Kasian dengan ibu2,,cak mano nak mencari lauk laju saro….aku sepakat dengan pak Bos mang Saukani ado baeknyo jangan di tutup..tapi harus mengikuti protokol Kesehatan…
Dan keputusan ini aku kiro sebagai tindak lanjut dari postingan netizen beberapo waktu lalu.
Saran aku jangan lagi buat “STATMEN” yang cak itu.tak lemak dengarnya dan akhirnyo nyarokan sepedusun angat demi melampiaskan SAKIT ATI bukan tak pacak tko yang buat statemen itu milu saro jugo…
Mari kito saling dukung saling kasi Solusi..
Kalu kami di rantau tak jadi masala kami tak balek demi kenyamanan dulur2 di dusun..,”

Di sisi lain pernyataan statement dukung dan support juga datang dari banyak akun seperti akun facebook Heri miliknya Heri Bordan. Ia memberikan dua lontaran pernyataan dukungan.

“Makasi pak kades dan prangkat serta jajaran., Kami tau itu keputusan berat namun dgn segala pertimbangan demi kebaikan rakyatmu.

SEMOGACEPATBERLALUBSDAICORONA,”

“Terimakasi para pak Kades. SUPER,”

Ada lagi akun facebook Fachrurrozi Reza dari Tebo Jambi, ditulisnya.

“Tutup lah galo kalangan supaya aman takutnyo orang tampa gejala karena di OKI masih banyak keno, gek takutnyo orang luar bawak virus,”

Ada lagi aku bernama M Yusuf dari Palembang menuliskan.

“Ini salah satu solusi…
Cubokan dulu…👍👍,”

Ada juga dari akun Aidil Chakra Habibie menulis.

“Mantul pak kades Ardani Abdulah memang harus jalankan aturan pemerintah,”

Terus akun Martini Abun “I Like… Saluuuuuut… semoga sukses pak yo👍,”

Dukungan juga datang dari akun atas nama Samsinar dari Riau. Ia menulis. “Kebijakan sangat bagus👍👍 demi kesehatan bersama,”

Ada lagi support datang dari akun Ahmad Rifqi Al Hafiz milik Mat Zen tinggal merantau di Bungo Jambi. Dirinya menulis.

“Alhamdulillah, saya pribadi mendukung sepenuhnya kebijakan pak kades semoga desa kito tehindar dari virus ini. Kami warga perantau tetap peduli dgn desa kita, l Love You Tanjung Pinang,”

Dukungan serupa juga datang dari akun Agussalim miliknya Agus Jadul dari perantau di Jambi. Dia menuliskan.

“Mantap pak Kades kami mendukung keputusan ini, demi yg terbaik untuk masyarakat Kito,” (Red)

Penulis: Kaka Pusaka
Editor: Sandi Pusaka Herman Timur

Komentar

News Feed