oleh

Tak Ada Terminal Kedatangan, Ribuan Penumpang Pelni di Batam Berjibaku Melawan Hujan

Laporan Wartawan Tribunpos.com, Batam, A Mursalin

BATAM, Tribunpos.com | Kisaran 3000 lebih penumpang kapal Pelni yang turun dari KM Kelud rute Belawan Medan-Batam di Pelabuhan Batu Ampar, harus berjibaku dengan derasnya hujan dan berlari dari kapal ke luar dermaga sejauh 500 meter. Hal ini tentu menjadi pemandangan sangat menyedihkan.


Kondisi pelabuhan yang tidak memiliki terminal kedatangan membuat penumpang terpaksa diguyur hujan, membasahi baju sekujur badan karena tidak ada tempat berteduh.

Situasi ini seharusnya tidak perlu terjadi, jika pemerintah pusat benar-benar peduli dengan pelayanan kenyamanan pengguna jasa pelayaran Kapal Kelud milik negara tersebut.

Salah seorang penumpang kapal, Yeni (45) terlihat terseok-seok berlari sambil menggendong anak kecilnya, menghindari hujan.

“Saya sering menggunakan kapal Pelni bila ke Medan, tapi di sini-pelabuhan-Batu-Ampar-Batam-sangat tidak layak,” katanya dengan muka kepayahan dan sekujur tubuh basah kepada Tribunpos.com, Senin (31/12/18) di Pelabuhan Batu Ampar.

Ada banyak Yeni Yeni lainnya yang bernasib sama. Tidak ada jalan lain, jika hujan begini, semua penumpang yang turun ke Batam harus rela bermandikan air hujan.

TERPAKSA: Ribuan penumpang Pelni KM Kelud tetap berjalan diguyur hujan, walau membasahi baju sekujur badan karena tidak ada tempat berteduh, Senin (31/12/18) di Pelabuhan Batu Ampar, Batam. (Foto: A Mursalim/Tribun Pos)

Dari pantauan wartawan media ini, pelabuhan Batu Ampar memiliki terminal keberangkatan, jarak antara terminal keberangkatan dan kapal KM Kelud sekitar 600 meter, sehingga Pelni menyediakan 3 armada bus khusus untuk keberangkatan penumpang. Namun tidak memiliki terminal kedatangan.

Kondisi di demaga selatan tampak di kelilingi tumpukan peti kemas dan parkir alat berat untuk bongkar muat. Sementara di luar dermaga jalanan sempit untuk lalu lalang kendaraan, sehingga sempat terjadi kemacetan panjang menambah derita penumpang yang turun ke Batam.

Baca juga : PT. BSSP Kelola Pelabuhan Batu Ampar, Angin Segar Bagi Dunia Pelayaran

Salah seorang staf Pelni yang enggan namanya disebut mengatakan, Pelni sebagai pengguna jasa pelabuhan Batu Ampar dan membayar semua pungutan jasa kepelabuhan. Sedangkan penyedia fasilitas pelabuhan tentunya tugas pengelola pelabuhan.

“Kami ini pengguna jasa pelabuhan, seharusnya pelayanan terbaik juga didapatkan penumpang yang turun di pelabuhan tersebut, bukan begini. Kan kasihan, mana jauh, apalagi kalau hujan begini, jelas menambah derita mereka,” ungkapnya.

Untuk sekedar diketahui, sebelumnya KM Kelud tiga tahun yang lalu singgah di Pelabuhan Beton Sekupang Batam, karena mencuat berita terminal keberangkatan kurang nyaman tidak ada alat pendingin, akhirnya Menteri Perhubungan waktu itu, Iganatius Jonan memindahkan kapal sandar di Pelabuhan Batu Ampar.

Pelayanan penumpang Pelni yang bersandar di Pelabuhan Batu Ampar Batam selain dikeluhkan penumpang, juga aktivitasnya dikeluhkan oleh beberapa agen pelayaran. Dinilai karena mengganggu waktu bongkar muat kapal barang/peti kemas dan menimbulkan biaya tinggi.

Semoga pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan mau merespon permasalahan ini. (Red/A Mursalin/Batam)

Editor : Sandi Pusaka Herman

Komentar

Headline