oleh

Ratusan Massa Gelar Long March Dari Deliserdang Tuntut Jokowi Berikan Keadilan

TRIBUNPOS PALEMBANG | Ratusan massa melakukan aksi Long March (jalan kaki) sambil diiringi 3 mobil besar yang diisi oleh berbagai macam umbul-umbul perserikatan mereka, Sabtu (25/07/20) malam.

Aksi yang dilakukan pada malam hari ini menuai kemacetan yang sangat luar biasa mulai dari UIN Raden Fatah hingga simpang RS Charitas demi menuntut keadilan kepada Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo. Rute dari Medan ke Jakarta hingga sampai di Palembang dengan berjalan kaki.

Ratusan massa ini terdiri dari dua kelompok tani, yaitu SPSB (Serikat Petani Simalingkar Bersatu) dan SPMB (Serikat Tani Mencirim Bersatu) dari Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

“Kami melakukan aksi ini karena disana tanah dan rumah kami digusur oleh PTPN2, jadi kami telah melakukan long march beberapa kali ke kantor DPRD, Bupati, Kantor BPN Kabupaten dan Kantor BPN Provinsi tidak ada tanggapan sama sekali. Sehingga kami putuskan pada tanggal 25 Juni lalu, kami harus jalan kaki ke Jakarta untuk menuntut keadilan kepada bapak Presiden Republik Indonesia,” ungkap Awan Purba selaku Koordinator Aksi kepada wartawan TRIBUNPOS, Sabtu (25/07/20) malam.

“Ini hari ke-31 kami jalan kaki dari Medan ke Palembang,” tambahnya.

Tujuan mereka melakukan aksi ini agar masyarakat se-Indonesia tau bahwasanya ratusan massa ini didzolimi oleh pihak PTPN2, sehingga masyarakat dapat perduli terhadap kelompok petani dan Presiden pun bisa lebih peduli terhadap kelompok petani ini.

“Dengan harapan, Presiden Jokowi dapat membantu dan melihat ratusan massa yang turun aksi ini. Apabila tidak ada tanggapan dari Presiden Republik Indonesia, kami tidak akan pulang dan akan tetap disana. Delegasi kami sudah ada 20 orang disana (Jakarta), kemungkinan 17 Agustus Hari Kemerdekaan nanti, disitu juga kami merdeka dari pendzoliman- pendzoliman yang kami dapatkan dari PTPN2,” tegas Awan.

Adapun konsumsi yang mereka siapkan berupa ubi kayu dan jagung. Selain itu, ada pula masyarakat yang merasa iba kepada mereka sehingga mereka mendapatkan bantuan berupa air mineral dan makanan, serta banyak bantuan lainnya.

“Kami berjalan kaki dari Medan kesini dengan air mata dan keringat yang sangat bercucuran. Kami yakin bahwasannya Presiden Republik Indonesia akan peduli kepada kami karena harta benda sudah habis untuk di jalan, namun kami juga sangat merindukan keluarga. Tenaga juga habis, akan tetapi karena pentingnya keberlangsungan hidup kami, kami tidak bisa menyekolahkan anak kami, tidak bercocok tanam lagi, makanya kami berjuang sampai titik darah yang terakhir, sebab 2000 KK yang terdampak akibat PTPN 2 ini,” tutup Awan saat diwawancarai wartawan media ini.

Wartawan: Yolawati

Editor: Beby Akbar

Komentar

News Feed