oleh

Pj Kades Taba Pelaku Pembacokan di Empat Lawang Tak Ditahan Polisi, Lah Kok Bisa Ya?

Liputan: Kurniawan/ Wartawan Empat Lawang, Sumsel

TRIBUNPOS, EMPAT LAWANG | Juarsyah, pejabat Kades Taba, Kecamatan Muara Saling, Empat Lawang, Sumsel, pelaku pembacokan terhadap Paryadi, ternyata belum ditahan polisi.


Juarsyah ditemani anaknya, melakukan pengeroyokan terhadap Paryadi di rumahnya di Tebing Tinggi, Selasa (10/8/21) kemarin. Akibat pengeroyokan itu pria yang sudah cacat kaki buntung ini sebelumnya, harus mengalami luka bacok di bahu sebelah kanan.

Menurut keterangan saksi yang juga istri korban, Trismiati menuturkan, tidak tau pasti apa permasalahannya sehingga Oknum Pj Kades tersebut memukul suaminya.

“Waktu itu pelaku (Juarsyah) datang ke rumah dan langsung bicara dengan suami saya (Korban,-red), mengatakan gara gara kau tadi anakku laju luka, dan saat itu juga pelaku langsung meninju suami saya dan langsung gelut (berkelahi,-red),” kata Trismiati.

Masih dikatakannya, pada saat itu, orang ramai, namun tidak bisa melerai keduanya, dan datanglah pelaku lainnya (Anak Juarsyah,-red) dengan membawa parang.

“Datang lah anak Juarsyah yang bernama Devin, langsung membacok suami saya, dan langsung lari,” jelasnya.

“Tidak tahu masalahnya apa, tapi pelaku bilang gara gara suami saya anaknya luka, saya tidak tahu nama anaknya itu, tidak ada masalah, kami juga tidak tahu masalahnya apa,” tambahnya.

Sampai saat ini polisi dari Polsekta Tebing Tinggi maupun Polres Empat Lawang, tidak melakukan penahanan terhadap tersangka pembacokan, yang mengakibatkan korban bersimbah darah.

Kapolsek Tebing Tinggi, Kompol Asep Sumpena dihadapan wartawan, menjelaskan alasan tersangka tidak ditahan.

Menurut Kapolsek, pelaku sudah menyerahkan diri dan diperiksa. “Karena sudah memenuhi pasal 184 hukum acara pidana yaitu alat bukti yang sah, sehingga pelaku ditetapkan sebagai tersangka namun tidak ditahan hanya wajib lapor setiap Senin dan Kamis,” ujarnya saat diwawancarai di halaman Mapolsek Tebing Tinggi, Kamis (12/7/21).

Saat ini kata Asep, walau pelaku tidak ditahan, namun kedua pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka, atas perbuatannya melakukan kekerasan terhadap barang atau orang yang mngakibatkan luka sebagaimana dimaksud pasal 170 ayat 2 ke () 1 KUHP. Dengan ancaman hukuman paling lama maksimal 7 kurungan penjara.

Sementara itu, tindakan polisi yang tidak menahan pelaku pembacokan, mendapat pandangan sinis masyarakat.

Salah seorang tokoh masyarakat berinisial W, yang menyimak kasus tersebut, pesimis penegakan hukum akan berjalan maksimal.

“Jangan karena yang bersangkutan (pelaku) adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) jadi polisi memberlakukan perlakuan hukum berbeda,” ucapnya. (Red/Iwan)

Editor Berita: Sandi Pusaka Herman Timur

Komentar

Headline