oleh

Pipa Gas Bocor di Perairan Banten Milik Perusahaan China? Polisi Masih Memeriksa Saksi

Offshore
Laporan Wartawan : Badiamin Sinaga / Merak, Banten

TRIBUNPOS.COM, MERAK — Paska bocornya pipa gas bawah laut di perairan Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten tepatnya sebelah barat pulau panjang meninggalkan banyak pertanyaan, apa penyebab dan siapa pihak yang bertanggungjawab.

Direktorat Kepolisian Perairan Polda Banten tengah melakukan proses pemeriksaan beberapa saksi. Belum ada arah tersangka.

Dilain pihak, Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Banten, yang mempunyai wewenang penuh melakukan pengawasan salvage (penyelamatan) dan pekerjaan bawah air termasuk pemasangan pipa gas di wilayah perairannya, menyatakan baru akan melakukan pengecekan dokumen perizinan kegiatan bawah laut tersebut.


“Karena saya baru jalan dua bulan menjadi Kepala UPP Bojonegara, kasih saya waktu untuk croscek, apakah ada surat permohonan pemasangan pipa gas itu masuk ke UPP kita, atau ke KSOP Banten,” ujar Kepala UPP Bojonegara, Dicky kepada Tribunpos.com, Senin (10/7/2018) di ruang kerjanya.

Baca Juga : Pipa Gas Bawah Laut Bocor Gegerkan Perairan Merak

Menurut informasi yang Tribunpos.com himpun, jaringan pipa gas bawah laut tersebut milik sebuah perusahaan Oil & Gas multinasional, PT China National Offshore Oil Company (PT CNOOC) yang berbasis di Jakarta.

PT. CNOOC atau China National Offshore Oil Corporation South East Sumatera adalah sebuah perusahaan minyak dan gas milik Republik Rakyat China yang bereksplorasi di tenggara Pulau Sumatera dan Pantai Utara Banten yang terlibat dalam eksplorasi, pengembangan, produksi dan penjualan minyak dan gas alam.

Tahun lalu, China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) berencana melepas seluruh hak kelolanya di Blok South East Sumatera. Keputusan tersebut diambil perusahaan minyak dan gas bumi asal Cina ini lantaran kontraknya akan segera berakhir.

Namun kabarnya, kontrak Blok South East Sumatera berakhir tahun 2018 ini, oleh negara tidak diizinkan hak pengelolaannya jatuh lagi ke perusahaan dari luar Indonesia. Sementara sekarang operatornya di ambil alih oleh Pertamina.

Offshore

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), selain sebagai operator, CNOOC memiliki hak pengelolaan di blok tersebut sebesar 65,54 persen. Sisanya dipegang oleh Pertamina 13,07 persen, KNOC 8,91 persen, Risco Energi lima persen, Fortuna Resources Ltd 3,77 persen, Talisman UK Ltd 2,08 persen dan Talisman Resources Ltd 1,64 persen.

Blok South East Sumatera sebenarnya masih bisa memproduksi minyak hingga masa kontraknya berakhir. Dalam rencana kerja anggaran dan perusahaan yang disetujui SKK Migas, CNOOC menargetkan produksi minyak blok ini pada 2016 sebesar 31.650 barel per hari (bph). Ini lebih tinggi dari target produksi CNOOC dalam APBN 2016 sebesar 30.760 bph. (Tribunpos)

Editor : Sandi Pusaka Herman

Komentar

Headline