oleh

Petani Karet Prabumulih: Pak Jokowi, Tolong Kami

TRIBUNPOS.COM | PRABUMULIH – Sejumlah petani di Prabumulih, Sumatera Selatan, mengeluhkan rendahnya harga karet yang tidak sebanding dengan kebutuhan hidup. Belum lagi harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, membuat petani menjerit.

Meski tak paham bagaimana cara pemerintah membantu petani agar harga karet naik, dan kembali merasakan kesejahteraan seperti dulu kala. Tetap saja para petani karet di Prabumulih masih menggantungkan harapan ke Presiden Jokowi minta naikan harga karet.

Bahkan demi menyampaikan aspirasinya kepada Presiden Jokowi dan Pemerintah Kota Prabumulih, para petani karet sambil memakai baju sisa kampanye dulu bertuliskan Jokowi-Amin, membentangkan karton bertuliskan, “PAK JOKOWI TOLONG NAIKAN HARGE GETAH, KAMI PETANI KARET TAMBAH SARE”.

Jumar (46) salah satu petani karet warga Kelurahan Tanjung Raman, Prabumulih, kepada tribunpos.com mengatakan, untuk harga karet bulan ini (baca;- maret) semangkin hancur dan rakyat menjadi capek. Hal ini berdampak kepada semuanya, anak sekolah bagaimana, belanja perhari dan masih banyak lagi.

“Harga karet bulan ini tambah mengalami kehancuran, dari semula Rp10.769 menjadi Rp9.359 perkilogram,” ucap Jumar, Rabu (19/02/20).

Jumar berharap pemerintah perhatikan permasalahan harga karet yang tidak sesuai dengan kebutuhan hidup petani. “Pokoknya untuk pemerintah pusat, tolong nian peduli dengan kami petani karet ini, supaya harga karet pacak sesuai dengan kebutuhan hidup sekarang, itu bae lah cukup,” pungkasnya.

Heri (37), petani lain menambahkan, walaupun harga karet ini tergantung pasar luar dan pemerintah pusat, namun bukan berarti pemerintah daerah tidak berbuat apa-apa.

Menurut Heri, DPRD Kota Prabumulih bisa mengusulkan anggaran untuk petani karet agar sedikit bisa meringankan beban petani. Misalkan anggaran untuk bibit karet gratis, atau bisa pupuk subsidi.

“Walau getah tegantung hargo luar, Pemkot dan DPRD harus jugo mekerke nasib kami ni, Pemkot biso anggarkan samo dewan untuk bibit gratis, pupuk subsidi, jadi kami idak saro nian, Prabumulih ini sebagian besak wongnyo gawe tani getah inilah,” ucapnya.

Terpisah, Pemerintah Kota Prabumulih melalui Kepala Dinas Pertanian, Drs. Syamsurizal, SP Msi saat dihubungi tribunpos.com mengatakan, harga jual karet dikarenakan kondisi negara ekspor, untuk karet Indonesia itu ke negara China yang saat ini sedang dilanda wabah virus corona. Hal ini tentu kebijakan untuk menaikan harga jual karet berada pada kebijakan pemerintah pusat bukan di pemerintah daerah.

“Kita selalu berharap dan berharap, kareno naikan hargo karet bukan di tingkat level kota yang biso mendongkrak hargo karet, kareno sebagian karet itu di ekspor dan taulah dewek, seluruh prodak ekspor apolagi dengan terjangkitnya virus corona ini,” jelas Rizal.

Ia menambahkan, saat ini Indonesia baru mendapatkan pasar baru untuk ekspor karet China, yang tadinya ke Amerika dan sekarang ini kerjasama dengan China.

Namun karena dampak wabah virus corona di China akhirnya baik China maupun negara lain termasuk Indonesia mengurangi kontak langsung, semantara dengan negara tersebut termasuk akses ekspor dan impor perdagangan. Otomatis mengurangi jumlah ekspor karet yang berdampak pada turunnya harga beli.

Mengenai antisipasi Pemerintah Kota Prabumulih menghadapi tidak stabilnya harga jual getah karet di kalangan petani. Dia menjelaskan, dari dulu pihaknya sudah mencoba membantu petani karet dengan mengadakan sosialisai mutu getah karet, membina budidaya bibit karet, serta pembagian bibit karet.

“Kito sudah lakukan sosialisasi mutu karet, budidaya bibit dari tanam supaya jangan pilih bibit basing-basing, kito arahkan bibit okulasi, kebun dipelihara, dari kito walaupun idak banyak, ado jugo pembagian bibit dan untuk petani karet. Jangan beputus asa kejadian ini kito berharap temporer tidak akan selamanya.” pungkasnya. (Red/ Kaka)

Penulis: Aries Prandiko
Editor: Sandi Pusaka Herman

Komentar

News Feed