oleh

Paguyuban Toga Sinaga Pertanyakan Pembagian Santunan Kerahiman Korban Tsunami Banten Tak Merata

Laporan Agung Pambudi, Serang, Banten

SERANG, Tribunpos.com | Ratusan bahkan ribuan orang menjadi korban dalam peristiwa tsunami Banten akhir 2018 lalu. Mayoritas korban adalah para warga pendatang yang sedang menikmati liburan di beberapa tempat wisata di Pandeglang dan Anyer.

Dari sekian banyaknya yang menjadi korban, 7 orang diantaranya adalah korban dari marga Toba Sinaga.

Badiaman Sinaga, Perwakilan Punguan Pomparan Toga Sinaga Boru (PPTSB) Wilayah Banten mengatakan, berdasarkan data yang dimilikinya, ada 7 orang terdiri dari 5 orang dewasa dan 2 anak-anak dari marga Sinaga yang menjadi korban.

Namun, sampai saat ini belum ada santunan apa pun yang mereka ahli waris terima. Bahkan uang Pungli pemulangan jenazah yang dipungut oleh oknum RSDP Serang dari keluarga korban marga Sinaga yang katanya mau dikembalikan pun juga belum diberikan.

Padahal, Sekda Kabupaten Serang pernah mengatakan ke sejumlah media akan saweran untuk mengembalikan. Tapi nyatanya tidak ada kelanjutannya lagi.

“Kenapa keluarga saya yang menjadi korban Pungli saat tsunami Banten sampai saat ini belum ada pihak dinas terkait mendata korban, jangankan dapat santunan, didata saja dari dinas terkait belum pernah,” ujar Badiaman, Sabtu (29/6/2019).

FOTO: Kuasa perwakilan keluarga korban dari Punguan Pomparan Toga Sinaga Boru Wilayah Banten, Badiaman Sinaga, mempertanyakan pemberian uang kerahiman yang tidak merata. (Red. Tribunpos.com)

Pihaknya menyesalkan kenapa pembagian uang kerahiman itu tidak merata dan menuntut pemerintah memberikan santunan yang seharusnya mereka juga dapatkan, seperti para keluarga ahli waris korban lainnya, tidak dibeda-bedakan.

“Saya meminta seperti apa sih teknisnya untuk mendapat santunan kematian dari bencana, karena ini sudah berjalan 6 bulan, keluarga kami yang menjadi korban belum mendapatkan santunan,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya mempertanyakan mekanisme pembagian santunan korban tsunami yang dinilai kurang adil. “Sampai sekarang kami keluarga ahli waris korban belum mendapat kabar apapun soal santunan itu akan diterima, malahan kabarnya sebagian besar korban yang lain sudah menerima, kami didata saja belum,” ucapnya.

Peristiwa yang sudah lebih 6 bulan itu, kata dia, hingga saat ini belum ada kejelasan realisasi santunan yang dijanjikan pemerintah. “Belum pernah ada informasi apa pun kepada kita, selama ini komunikasi keluarga korban mempertanyakan ke kita sejauh apa perkembangannya,” ungkap Badiaman.

Sejauh ini, sambung dia, hanya pihak kepolisian Polda Banten yang meminta keterangan dari keluarga korban terkait kasus Pungli. Sedang pihak pemerintah tidak ada.

Pihaknya meminta, agar pemerintah dan Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial dari Kemensos untuk benar-benar mendata korban tsunami, jangan sampai tidak merata.

Berikut data korban dari keluarga Toba Sinaga:

1. Ojak Pandiangan, alamat Klender,
dari RSUD Pandeglang.
2. Ruspita br Simbolon, alamat Klender
dari RSUD Serang.
3. Mangatas Sagala, alamat Cisoka Tangerang dari RSUD Serang.
4. Safania Br Sinaga, alamat Cisoka Tangerang dari RSUD Serang.
5. Wela Br Sinaga, alamat Gunung Putri Bogor dari RSUD Serang.
6. Satria Sinaga (6 bulan), alamat Klender dari RSUD Serang.
7. Tianti Timoty Br Simbolon, alamat Klender dari RSUD Serang. (Red)

Editor. Sandi Pusaka Herman

Komentar

News Feed