oleh

Miris, Ijazah Anak Yatim Ditahan Sekolah SMK, Kemana Hati Nurani dan Rasa Prikemanusiaan ?

TRIBUNPOS TANGERANG , BANTEN – Nasib Terkatung – katung, dialami oleh Sahrul Sidik seorang Anak Yatim yang dtinggal Oleh Alm. Bapaknya sejak kelas 2 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) karena Ijazah yang masih ditahan oleh pihak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Avicena Rajeg, Kabupaten Tangerang Banten. Pihak sekolah beralasan belum melunasi kewajiban tunggakannya, Sahrul pun tidak bisa melamar kerja sesuai dengan strata pendidikan terakhirnya. Sabtu (8/8/20).

Sahrul Sidik alumni SMK Avicena Ijazahnya ditahan pihak sekolah


“Gak dapet saya, harus dibayar dulu tunggakannya kalau mau diambil ijazahnya,” kata Sahrul Sidik saat ditemui di rumahnya, Kp. Nagreg , Desa Rajeg Mulya, Kecamatan Rajeg, Kamis (6/20).

Dulu pada saat masih ada alm. bapaknya yang membiayai kelas 1 pembayaran sekolahnya lunas. Sahrul mengaku memiliki tunggakan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), Biaya Ujian dan Biaya tour totalanya Rp 6.200.000, tunggakan biaya pendidikan itu hingga saat ini belum dilunasi karena faktor ekonomi ibunda dan sahrul yang pas pasan. Itulah alasan Ijazah ditahan sekolah

“Iya itu dari kelas 2 sampe lulus tunggakannya enam jutaann,” katanya.

Ibunda Sahrul Sidik, Sukaesih hanya bisa menteskan air matanya saat menceritakan pulang dari sekolah tanpa ada hasil. sudah dua kali Suryati datang ke sekolah terahir tahun 2019 kemarin ketemu Pak Yusuf, memohon – mohon kepada pihak sekolah minta dibantu namun jawaban yang sama diterima oleh Sukaesih tanpa adanya kebijakan yang meringankan dari pihak sekolah SMK Avicena Rajeg, Sukaesih pun pulang sambil menangis dijalan karna sedih melihat nasib anaknya.

“saya ke sekolah mohon – mohon ka guru lalaki ga apal namnya, kata saya Pak saya mah minta surat kelulusan aja kalau ijazah mah saya sadar saya belum mampu bayaran, tapi kata Pa guru nya yang nunggak satu juta lagi aja ga dikasih, kalo sahrul lunasin nanti saya masukin ke gajah tunggal kata Pak guruna,”
Ucap Sukaesih.

Sementara saat dikonfirmasi ke Sekolah Tanggal 06 Agustus 2020 Jam 16.58 WIB
Awak media diterima oleh Pihak sekolah Yusuf yaitu yang memiliki kebijakan dengan Yayasan, namun Yusuf berdalih anak itu belum pernah saya yang melayani saat ke sekolah. “kalau saya ga ketemu dengan orangnya ketemu nya dengan siapa dulu kemaren ibarat katanya ya, kalau kebijakan memang saya dengan Yayasan, kalo masih ada tunggakan dibenarkan ijazah ditahan, khusus Yayasan kebijakan Yayasan karna kita bekerja kan,kalo saya ga bisa ambil keputusan sepenuhnya, sekrang Kepala Yayasan lagi ga di sekolah, besok saya kabarin ya untuk jadwal ketemu nya”, ucap Yusuf Jumat (07/08/20) para awak media dipertemukan dengan kepala yayasan SMK Avicena H. Jenal
hadir juga Kepala Sekolah SMK Avicena Badri diruanganya.

“Dan bukan hanya kita silahkan ente tanya ke sekolah swasta lain, dan saya sudah tegaskan kepada siapapun saya berlakukan mau ke pribumi mau pendatang sama, jadi gini penyelesaiannya kalau saya tegaskan kita tetep tidak akan memberikan ijazahnya selama dia belum melunasi tunggakanya, bahkan kita punya peraturan dia minta foto copy untuk daftar ke pabrik tapi dengan aturan minimal sisa tunggakan 600 ribu”. Pungkasnya.

Sementara itu, Wakil ketua DPRD Provinsi Banten Dari Partai Golkar Fahmi Hakim, saat ditemui di kediamannya Kota Serang, bahwa Penahanan Ijazah anak Sekolah Tidak Dibenarkan ditahan dengan alasan apapun. “Ga Boleh sekolah tahan Ijazah, mau dengan alasan apapun, nanti saya panggil Disdik-nya dan Ketua Yayasan,” sampainya.

Ijazah merupakan dokumen resmi yang diterbitkan oleh lembaga pendidikan sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah lulus dari satuan pendidikan. Penahanan ijazah tidak dibenarkan dan melanggar hukum pendidikan sebagaimana yang telah diatur. Penahanan Ijazah adalah Pelanggaran Undang – Undang No. 20/2003.

Lembaga Pendidikan Swasta selain untuk mencerdaskan Anak – anak bangsa juga bertujuan untuk membangun anak bangsa yang berkarakter, mempunyai rasa kemanusiaan, dan mempunyai hati nurani yang kuat, namun yang menjadi masalah ketika kemudian menjadikan pendidikan yang tujuannya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa berubah menjadi komersialisasi pendidikan yang ujung-ujungnya mencari keuntungan. Sekolah semata-mata didirikan untuk mencari keuntungan dan menafikan peran sertanya dalam mencerdaskan anak-anak bangsa, Masyarakat yakin tidak semua sekolah swasta sekejam itu.

Namun Rezeki, Jodoh, Kematian siapa yang tau? Maka timbulah Tunggakan Kewajiban yang harus dibayarkan, disinilah peran Kemanusiaan dan hati nurani dari semua pihak terlebih bagi yang memiki Otoritas dan Kebijakan itu. Maka layak kah suatu Lembaga Pendidikan yang hilang rasa kemanausiaan j hati nurani ketika tidak memberikan kelonggaran kepada Anak Bangsa yang menghalangi Hak Anak Bangsa.
Pantaskah kita sebut sebagai lembaga Pendidikan atau dirubah saja jadi Lembaga Finance Kredit?

Wartawan : Oki Agus Setiawan

Editor        : Indra Darmawan

Komentar

News Feed