oleh

Miris! Akibat Jalan Rusak, Warga Sakit di Pandeglang Harus Ditandu Belasan Kilometer

PANDEGLANG, Tribunpos.com | Peristiwa warga sakit ditandu di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, kembali terjadi. Kali ini adalah Junaedi (40), warga Kampung Leuwi Buled, Desa Leuwi Balang, Kecamatan Cikeusik.

Peristiwa ditandunya Junaedi terjadi pada Selasa (19/3/2019). Ponakan Junaedi, Jumhadi, mengatakan pamannya hendak dibawa ke puskesmas lantaran penyakitnya kambuh.

“Paman saya punya penyakit maag kronis, kambuh lagi, terpaksa kami bawa ke Puskesmas Cikeusik dengan ditandu,” kata Jumhadi dilansir Kompas.com.

Junaedi terpaksa ditandu ke Puskesmas Cikeusik oleh keluarga dan tetangga lantaran akses jalan rusak parah sehingga tidak bisa dilalui kendaraan.

Namun, saat itu Junaedi tidak sampai dibawa ke Puskesmas Cikeusik lantaran ada kerabat yang membawa mobil untuk kemudian dibawa ke rumah orangtuanya di Kecamatan Munjul.

“Jarak dari rumah ke puskesmas enam kilometer. Setelah empat kilometer ditandu, ada keluarga yang datang bawa mobil akhirnya dibawa ke Munjul,” kata dia.

GAMBAR: Junaedi (40) terpaksa ditandu saat akan dibawa ke Puskesmas Cikeusik, Kabupaten Pandeglang lantaran akses jalan rusak, Selasa (20/3/2019). (Istimewa)

Sebelumnya, warga Pandeglang, Tolib (67), juga terpaksa ditandu saat akan dibawa ke Puskesmas Sindangresmi lantaran jalan rusak.

Selain Junaedi dan Tolib ada pula Wati (37) juga terpaksa ditandu pakai sarung saat hendak dibawa ke rumah sakit. Akses jalan yang rusak dan berlumpur di Pandeglang, Banten, ini menyulitkan evakuasi Wati yang menderita sakit usus buntu ini.

Wati ditandu beberapa warga. Dia digotong sejauh satu kilometer ke desa tetangga. Jalan yang dilalui warga itu juga tidak pernah diaspal atau dibeton.

“Karena mau dibawa (ke rumah sakit), jalan nggak bisa masuk mobil. Akhirnya pas mau menuju mobil ditandu pakai sarung,” kata Hata Suhata (34) warga setempat.

Menurut dia, dari 30 kilometer jalan milik kabupaten, hanya 6 kilometer yang sudah tersentuh pembangunan. Sisanya, jalan masih berbentuk lumpur dan batu. Saat musim hujan, mobil kesulitan masuk ke daerahnya.

Untungnya, saat ditandu warga hanya berjalan satu kilometer. Jika curah hujan parah dan jalan semakin berlumpur, mereka katanya bisa jalan belasan kilometer.

“Kalau hujan sampai puncak, bisa jalan belasan kilometer. Jalan memang kayak bubur, dari rumah pasien betul-betul kayak bubur, mobil saja nggak bisa masuk,” katanya.

Menurutnya, evakuasi warga sakit menggunakan tandu di Cibitung juga sering terjadi. Daerah ini memang terisolasi akibat infrastuktur jalan yang rusak. Jadi jika ada pasien atau warga kesulitan maka mereka memanfaatkan sarung dan kayu sebagai tandu darurat.

“Kejadian kayak tadi sering. Fenomena masyarakat digotong sarung hampir lumrah di Cibitung kalau musim hujan karena jalannya jelek,” tegasnya.

Bupati Pandeglang Irna Narulita juga sudah menganggapi persoalan warga ditandu saat akan dibawa ke puskesmas. Menurut Irna, hal tersebut merupakan bentuk partisipasi masyarakat yang berjalan baik.

“Itu saya sebut sebagai ambulans desa, ambulans kampung, jangan dilihat ditandunya, jangan lihat jalan rusaknya, tapi partisipasi masyarakatnya,” kata Irna kepada wartawan di Pendopo Kabupaten Pandeglang, beberapa waktu lalu.

Sementara terkait jalan rusak di sejumlah kecamatan di Pandeglang, Irna menyebut sudah dibahas pada akhir tahun lalu. Saat ini, kata dia, sudah masuk tahap lelang dan akan mulai dikerjakan dalam waktu dekat. (**)

Editor : Sandi Pusaka Herman


Komentar

News Feed