oleh

Menteri Siti Nurbaya Merespon Cepat Kebakaran Hutan di Jambi

JAKARTA, Tribunpos.com | Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia Siti Nurbaya merespon cepat kejadian kebakaran lahan di Kecamatan Kumpeh, Provinsi Jambi, hingga menimbulkan cahaya kemerahan di seputar langit Bumi Batanghari tersebut.

Penyebabnya karena adanya pergerakan titik api (hotspot) serta tingginya api yang membakar hutan-hutan di daerah Jambi hingga mencapai 7 meter.

Menteri Siti mengatakan foto merah atau trick teknim foto dan lain-lain, sedang diurus dan sudah dibicarakan di tingkat satgas provinsi.

“Langkah penanganan Karhutla di lapangan sedang terus dilakukan,” ujarnya.

Hari ini, lanjut Menteri Siti Nurbaya, Kepala BNPB Letjen Doni Monardo, Dirjen Gakkum KLHK, Rasio Ridho Sani, dan Pangdam II Sriwijaya, Mayjen TNI Irwan akan bersama-sama ke Jambi tangani ini.

“Dan, ini dilakukan secara mobilisasi dengan didukung oleh TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni serta pihak swasta juga ikut membantu,” jelas Menteri Siti Nurbaya.

Ia menambahkan, sekarang ini sudah ada 8 pesawat. Sudah siap dilakukan hujan buatan saat ada awan.

Peta pergerakan titik api (hotspot). (Dok. Ist)

Kejadian kebakaran lahan di Kabupaten Kumpeh Jambi salah satu disebabkan kondisi el nini lemah, serta musim kering panjang sehingga areal gambut di Kampeh yang bila kering mudah terbakar atau bisa terbakar sendiri.

“Jadi, situasi ini yang sedang kita kelola bersama-sama,” pungkasnya.

Banyak Hutan Tak Produktif, Semak Belukar

Terpisah, Rasnelly warga Jambi saat dimintai keterangan terkait dengan kejadian kebakaran lahan di Kabupaten Kumpeh, mengatkan pagi ini Jambi dan Kabupaten Tanjung Bungo kondisi asap semakin tebal.

“Anak-anak sekolah hari ini diliburkan sampai batas waktu yang belum ditentukan,” ujar perempuan yang berprofesi sebagai advokat tersebut kepada Waluyo dari Tribunpos.com, Senin (23/9/2019) pagi.

Masalahnya kata dia, di Jambi banyak hutan-hutan yang tidak produktif, semak belukar. “Rata-rata yang terbakar jarang menimpa kebun masyarakat tetapi hanya jalaran api saja,” terangnya.

“Saya sebagai warga Jambi, menghimbau bagaimana hutan atau semak-semak itu bisa jadi produktif. Tapi, kembali juga ke masyarakat, kadang-kadang mereka masih saja buang puntung rokok sembarangan padahal mereka tau sekarang ini kan lagi musim kemarau panjang,” tambah Roesnely.

Harapan yang sama juga meluncur dari Marlon, pria kelahiran Palembang yang sudah beberapa bulan ini ditempatkan di Jambi oleh perusahaan dimana ia bekerja.

Marlon berharap agar pemerintah secepatnya mengatasi kebakaran lahan di Jambi. Pasalnya, kata dia, bila tidak segera diatasi dikhawatirkan dapat menganggu kesehatan dikarenakan asap dan udara yang kotor bertebaran di seluruh wilayah Jambi.

“Khusus bagi pelaku pembakar hutan maupun cukong agar segera ditangkap. Karena tindakan pelaku hanya mementingkan diri sendiri tanpa sekalipun mikirin rakyat, warga sekitar maupun dunia.” katanya. (*/Red)

Penulis: Waluyo
Editor: Sandi Pusaka Herman

Komentar

News Feed