oleh

Menanti Polri Usut Kematian Wabup Sangihe, Diduga Penuh Kejanggalan

TRIBUN POS, JAKARTA I Publik kini menanti langkah polisi untuk menyelidiki kematian Wakil Bupati (Wabup) Sangihe Helmud Hontong yang dinilai janggal. Peran institusi penegak hukum dinanti demi membuat terang perkara ini.

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mencium kejanggalan dari kepergian Helmud yang tak wajar. Terlebih lagi, Helmut terkenal dengan sikap penolakannya terhadap tambang di Sangihe.


“Ini mengagetkan. Kedua, misterius dan agak janggal kematiannya. Kenapa seperti itu? Karena dia ini kan menjadi sorotan, high profile karena dia ini kepala daerah yang menolak tambang juga. Bahkan dia juga mengirim surat ke ESDM. Suratnya juga sudah beredar,” kata Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Merah Johansyah Ismail saat dihubungi, Jumat (11/6/2021).

“Ini janggal karena dia sehat-sehat aja, tapi tiba-tiba mendadak kolaps,” imbuhnya.

Keluar Darah dari Mulut dan Hidung
Ajudan Helmud, Harmen Rivaldi Kontu, menceritakan detik-detik meninggalnya Wabup Sangihe Helmud Hontong di pesawat rute Denpasar-Makassar. Sebelum meninggal, Helmud sempat memberitahukan kepada Harmen bahwa sudah merasa pusing. Pada saat itu, Harmen diminta menggosokkan minyak kayu putih di bagian belakang dan leher.

Setelah lehernya digosok dengan minyak kayu putih, Helmud tidak lagi merespons. Harmen bahkan mengatakan ada darah yang keluar dari mulut dan hidung Helmud.

“Sekitar 5 menit itu saya lihat Bapak langsung tersandar. Saya panggil dan kore-kore (colek) namun sudah tidak ada respons lagi. Saya langsung panggil pramugari, namun tetap Bapak tidak ada respons. Kemudian keluar darah lewat mulut. Tak lama kemudian darah keluar dari hidung,” kata Harmen ketika dimintai konfirmasi detikcom di Pelabuhan Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Kamis (9/6).

Harmen mengatakan, setelah keluar darah, ada seorang pramugari yang meminta bantuan. Menurut dia, pramugari tersebut menanyakan apakah ada dokter atau tenaga medis yang ikut dalam penerbangan itu. Kata Harmen, karena ada dokter, Wabup Helmud langsung dibawa ke bagian belakang untuk mendapatkan penanganan medis.

“Pas itu pramugari langsung meminta tolong jika ada dokter atau paramedis yang ikut dalam penerbangan ini. Jadi langsung diarahkan ke bagian belakang pesawat. Saat itu nadi Bapak dipompa supaya ada pernapasan, tapi Bapak memang ndak ada respons. Terus mereka mengecek nadi Bapak, kan mau tahu detak jantung, tapi mulai melambat,” jelasnya.

Harmen saat itu duduk di samping Helmud. Tindakan terakhir yang diambil dokter di dalam pesawat yaitu diberikan suntikan guna memacu jantungnya. Namun nadinya tak ditemukan akhirnya pemberian suntikan dibatalkan.

“Jadi tindakan terakhir dari dokter itu mau suntik adrenalin untuk pacu jantung. Cuma pas cari nadi Bapak, karena mungkin Bapak sudah kolaps, sudah tak dapat nadi Bapak. Cari beberapa tempat tidak dapat, jadi mereka batalkan itu suntik. Jadi keterangan dokter di pesawat cuma itu yang bisa dibuat, kemudian alat-alat tidak ada yang memadai sambil menunggu turun di Makassar masih 30 menit lagi untuk landing,” ujar dia.

Tak lama setelah landing, Wabup Helmud langsung ditangani pihak dokter dari Bandara Hasanuddin, Makassar. Menurutnya, setelah memeriksa, dokter kemudian menjelaskan Wabup Helmud telah meninggal dunia.

“Pas tiba di Makassar, dokter karantina kesehatan naik di pesawat cek kondisi Bapak. Memang, waktu di pesawat, kedua dokter sudah periksa tangan Bapak mulai pucat. Sampai di ruangan masih diperiksa lagi. Menurut pandangan medis, gejala-gejala itu tandanya orang sudah meninggal,” katanya.

Minta Polisi Ikut Selidiki
Jatam melihat ada kejanggalan dari kematian Helmud yang dinilai sebagai sosok yang high profile. Menurut mereka, penyelidikan atas kematian Helmud harus dilakukan.

“Dia high profile juga, jadi bagi kita ini janggal. Kita mendesak agar otoritas terkait melakukan penyelidikan. Dalam hal ini pemerintah, penegak hukum, termasuk Komnas HAM,” tegas Merah.

Merah turut mengungkit soal laporan warga ke Komnas HAM terkait masalah tambang di Sangihe. Bahkan, menurutnya, autopsi perlu dilakukan jika memang diperlukan.

“Apalagi bulan Mei 2021 warga juga sudah melaporkan kasus ini ke Komisioner Komnas HAM. Jadi Komnas ini jangan diam. Kepolisian juga melakukan penyelidikan yang maksimum soal apa penyebab utama kematian beliau ini. Apakah perlu dilakukan autopsi juga,” ungkapnya.

Sementara itu, Komnas HAM mendorong agar polisi melakukan penyelidikan untuk meredam spekulasi publik. Komnas HAM menilai penting bagi aparat penegak hukum agar segera menyelidiki kejadian ini.

“Komnas HAM mendorong ada proses penyelidikan polisi supaya semuanya jelas sehingga tidak timbul spekulasi publik,” kata komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara saat dihubungi, Sabtu (12/6).

Komnas HAM mengatakan siap turun tangan dalam kasus kematian Wabup Sangihe. Namun pihaknya sejauh ini belum menerima aduan.

“Tentu. Kalau ada aduan, kami akan melakukan menindaklanjuti pengaduan yang ada. (Untuk aduan) saya belum cek,” ucap Beka.

Polisi Bentuk Tim
Bola panas yang dilemparkan Jatam dan Komnas HAM disambut Polri. Kapolda Sulawesi Utara (Sulut) Irjen Nana Sudjana mengklaim pihaknya telah membentuk tim untuk mengusut dugaan tersebut.

“Kami sudah menyusun tim khusus penyelidikan terkait kasus ini,” ujar Irjen Nana saat dimintai konfirmasi detikcom, Sabtu (12/6/2021).

Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menyatakan Polri juga menunggu respons dari keluarga.

“Kita tanyakan dulu ke Sulut, bagaimana keluarganya,” kata Argo saat dihubungi terpisah.

Meninggal Akibat Serangan Jantung
Polisi menyebut Helmud Hontong meninggal akibat penyakit jantung. Hal tersebut didasarkan analisis dari tim medis di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

“Diperkirakan meninggal karena jantung, karena penyakit jantung,” ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes E Zulpan kepada detikcom, Sabtu (12/6/2021).

Zulpan mengatakan tim medis bandara memang langsung memeriksa Helmud saat pesawat mendarat di Makassar. Kemudian tidak ada tanda-tanda kekerasan ataupun hal yang mencurigakan.

“Kan ditanya kemarin, jadi dia dinyatakan meninggal itu di udara. Kemudian pesawat itu kan dari Denpasar ke Makassar rutenya kan. Begitu pesawat itu landing di Makassar, itu diperiksa tim medis dari bandara didampingi dengan kepolisian,” kata Zulpan.

Namun Zulpan tak memberikan penjelasan lebih lanjut alasan tim medis menyimpulkan korban meninggal akibat serangan jantung.

“Itu tanya saja dokter itu, jangan saya lagi. Tanya dokter bandara. Tim medis (yang memeriksa korban), kepolisian hanya mendampingi saja,” katanya.

Kemudian dugaan penyebab kematian korban yang janggal, Zulpan mengatakan hal tersebut belum dapat dibuktikan lebih lanjut.

“Kalau dikaitkan dengan sebelum dia berangkat ke Jakarta dia menolak proyek tambang, saya rasa itu ditanyakannya ke Polda Sulut. Saya tidak tahu masalah itu. Saya hanya memastikan sebagai Kabid Humas Polda Sulsel bahwa begitu mendarat di Makassar, itu dinyatakan meninggal. Tidak ada tanda-tanda kekerasan,” katanya.

Alasan Jenazah Helmud Tak Diautopsi
Pihak kepolisian tak bisa melakukan langkah autopsi untuk memastikan penyebab kematian korban. Pasalnya, pihak keluarga menolak.

“Kemudian dihubungilah keluarganya di Sulawesi Utara, kemudian menerima pernyataan itu, berita itu, sehingga meminta jenazah dikirim ke kampung halaman,” kata Zulpan.

“Kemudian keluarga menerima musibah yang dialami, serangan jantung itu. Dan tidak meminta kepolisian kepolisian melakukan autopsi, langsung melakukan prosesi di pemakaman,” imbuhnya. (Red)

Penulis: Sandi Pusaka Herman Timur
Sumber: Detik

Komentar

Headline