oleh

Lestarikan Adat Batak di Perantauan, Monang Sinaga Ajak Anak Muda Belajar Budaya Toba

Laporan Badiamin Sinaga, Wartawan Tribun Pos, Banten

SERANG, Tribunpos.com | BUDAYA BATAK, khususnya Batak Toba adalah budaya yang unik, setidaknya itu tergambar dari Keluhuran Budaya Batak Toba.


Oleh karena itu di era zaman now, sudah seharusnya adat budaya kembali dilestarikan sebagai wahana untuk membangun karakter, jati diri bangsa melalui penggalian nilai-nilai luhur sebagai bagian dari Mahakarya Indonesia yang tidak hilang ditelan oleh zaman.

Adat – budaya adalah elemen dasar pembangunan karakter bangsa (national character building), sehingga upaya-upaya pelestarian serta pengembangan nilai-nilai luhur adat – istiadat dan budaya merupakan keharusan dilaksanakan agar nilai-nilai luhur tersebut bisa dipertahankan.

Sebab, seiring dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka Mahakarya Indonesia yang tergambar dari beragam-ragam adat – budaya, khususnya adat – budaya lokal sudah mulai pudar dilestarikan dan dikembangkan karena pengaruh dari budaya asing (Westernisasi) yang merasuki generasi muda bangsa Indonesia.

Hal ini lah yang menjadi dasar sosok Monang Sinaga untuk melakukan kegiatan positif mempertahankan budaya Batak Toba, menimal harapannya generasi muda ini mau belajar tentang budaya, khususnya adat Batak.

Monang melihat generasi muda Batak yang ada di perantau ini, apalagi yang lahir di perantau banyak sekali dari mereka yang tidak bisa berbahasa daerah (Batak).

“Mereka tidak bisa mengucapkan tapi mengerti sedikit-dikit,” tutur Monang kepada Tribunpos.com, Kamis (29/08/19)

Oleh sebab itulah Monang berkeinginan, apa yang dirinya tau soal adat Batak Toba mau dibagikannya, menimal diskusi sesama anak bangsa terkait bagaimana supaya adat Batak khususnya tata cara adat Batak Toba saat lahir, saat menikah dan saat meninggal.

“Tujuan saya adalah membangunkan generasi muda dapat bangkit, menuju Budaya yang lebih baik dan bermanfaat bagi bangsa ini kedepan,” ujarnya.

Monang mengatakan, wadah mereka bernama Paguyupan Tungkot Sialagundi (PTS), artinya perkumpulan yang didasari semangat yang kuat.

“Terbuka untuk umum, artinya semua marga bukan marga tertentu,” jelas Monang.

Dipaparkannya, saat ini sudah ada 50 orang yang mau bersama-sama diskusi terkait adat istiadat Batak Toba, itupun pihaknya mulai dari tanggal 3 Maret 2019, dan baru berjalan 6 bulan.

“Harapan saya dan teman-teman mari bersama-sama membangun budaya ini dari hal yang kecil, kami juga berharap pemerintah khususnya Kementerian Parawisata untuk dapat membantu, mendorong kami dalam hal alat yang dibutuhkan, karena saat ini kami hanya gunakan alat seadanya,” terang Monang.

Adapun sekretariat PTS berlokasi di Resto King Oloan, Jalan Raya Serang – Jakarta, Cimiuang, Kecamatan Ciruas, Serang-Banten.

Tempat simulasi (praktek) Lapo Naga Horas, Kelurahan Kepuren, Kecamatan Walantaka, Kota Serang.

Bila ada yang mau bertanya dapat menghubungi ke nomor 085-211-805-073. (*/Red)

Editor: Sandi Pusaka Herman

Komentar

Headline