oleh

KPK Buru Oknum Pejabat Waskita Karya Korupsi

Laporan Wartawan Tribunpos.com Jakarta, Waluyo

JAKARTA, Tribunpos.com | Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil membongkar korupsi proyek infrastruktur di perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tepatnya di PT Waskita Karya, Senin (17/12/2018) kemarin.

Bahkan, KPK telah menetapkan dua tersangka yaitu Kepala Divisi II PT Waskita Karya periode 2012-2013 Fathor Rachman serta Kepala Bagian Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya periode 2010-2014 Yuly Ariandi Siregar.

Ketua KPK Agus Rahardjo kepada Tribunpos.com mengatakan, kedua pejabat ini diduga menyalahgunakan jabatannya untuk menunjuk beberapa perusahaan subkontraktor agar melakukan pekerjaan fiktif pada sejumlah proyek kontruksi itu.

“Sebagian dari pekerjaan itu diduga telah dikerjakan perusahaan lain, bersama PT Waskita Karya (WK). Namun tetap dibuat seolah-olah akan dikerjakan empat perusahaan subkontraktor yang terindikasi hingga saat ini, padahal empat perusahaan ini tidak melakukan seperti yang ada dalam perjanjian kontrak” ujar Agus di Jakarta, Senin (17/12/2018).

Seperti diketahui sebanyak 14 proyek yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Papua diduga disalahgunakan pejabat PT Waskita Karya.

Praktik korupsi yang terjadi lewat proyek fiktif dan penganggaran ganda ini berpotensi dikembangkan menjadi pidana korporasi.

Adapun 14 proyek yang diduga dikorupsi adalah 5 proyek di Jakarta, yakni pengerjaan Kanal Banjir Timur Paket 22, normalisasi Kali Pesanggrahan Paket 1, pengerjaan Fly Over Tubagus Angke, pengerjaan Jalan Layang Non-tol Antasari-Blok M untuk paket Lapangan Mabak, dan Outer Ring Road Seksi W1. Kemudian 3 proyek di Jawa Barat yakni normalisasi Kali Bekasi Juli, pengerjaan Bendungan Jatigede, dan pengerjaan Tol Cinere-Jagorawi Seksi 1.

Proyek lainnya adalah 2 proyek di Bali berupa pengerjaan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai -Benoa Paket 2 dan Paket 4. Selanjutnya, pengerjaan Bandara Kualanamu Sumatera Utara, pengerjaan PLTA Genyem Papua, pengerjaan Fly Over Merak-Balaraja Banten, dan pengerjaan Jembatan Aji Tulur-Jejangkat di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Atas subkontrak pekerjaan fiktif ini, lanjut Agus, PT Waskita Karya melakukan pembayaran pada perusahaan yang ditunjuk. Namun, perusahaan subkontraktor itu menyerahkan kembali uang pembayaran dari PT Waskita Karya ke sejumlah pihak. Salah satunya digunakan untuk kepentingan pribadi.

“Akibat perbuatan tersebut diduga negara dirugikan Rp186 miliar. Perhitungan itu merupakan jumlah pembayaran dari PT Waskita Karya kepada perusahaan subkontraktor pekerjaan fiktif tersebut”. terang Agus. (Red/Jakarta)

Editor : Sandi Pusaka Herman

Komentar

News Feed