oleh

Kejaksaan Belum Usut Kasus Bedah Rumah di Empat Lawang

  • Mulai dari Anggaran ‘Disunat’ Sampai Memainkan Bahan Material

Laporan Wartawan Tribunpos, Kurniawan, Empat Lawang, Sumsel

TRIBUNPOS, EMPAT LAWANG | Kejaksaan Negeri Empat Lawang belum mengusut terkait dugaan korupsi pada proyek bedah rumah tahun 2020 di Kecamatan Pendopo, Empat Lawang, Sumatera Selatan.


Terendus bantuan bedah rumah dari Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) melalui Bantuan Stimulan Perumahan Rakyat (BSPS) DAK 2020 sebesar Rp15 juta diduga dipotong Rp 1 hingga Rp1,5 juta.

Belum lagi bahan material yang diduga juga dimainkan. Batu-bata yang seharusnya 5.700 buah, hanya diterima 3.900-4.000 buah, juga seng yang hanya 30 keping.

Kondisi ini dikeluhkan warga penerima bantuan manfaat program bedah rumah bagi masyarakat kurang mampu tersebut.

Tribunpos.com menelusuri ke penerima manfaat bedah rumah di kabupaten dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 30.000 jiwa lebih itu.

Beberapa warga yang berhasil diwawancarai tim investigasi Tribunpos.com mengaku, diduga ada pemotongan uang upah tukang, yang semula dijanjikan Rp 2.500.000 tapi diberikan Rp 1.500.000.

Bahkan ada yang dikasih hanya Rp 200.000, namun setelah ditanyakan baru lah ditambah Rp 800.000.

Seperti halnya yang dialami Dahlan (40). Dia mengungkapkan didatangi oknum pegawai kelurahan sekitar jam 11 malam dan menggedor rumahnya. Bilang meminta maaf, minta jangan mempermasalahkan lagi soal pemotongan uang tersebut.

“Saya merasa dibodohi, padahal saya sudah pinjam uang untuk bayar tukang, ternyata uangnya dipotong. Saya tidak rela uang bedah rumah saya dipotong,” beber Dahlan kepada Tribunpos.com, Sabtu (27/02/21).

Padahal dulu waktu di kantor Kecamatan, kenang Dahlan, sudah diberitahukan bahwa penerima bedah rumah akan mendapatkan Rp 15.000.000 berupa barang dan uang untuk upah tukang senilai Rp 2.500.000. Namun kenyataan berbeda, dipotong oleh oknum.

Lain lagi dengan pengakuan Nek Suti Rodima (60), warga Kecamatan Pendopo ini mengaku kalau dirinya diberikan pembagian uang upah Rp 1.500.000 dari yang dijanjikan Rp 2.500.000.

Nek Suti mengatakan, waktu itu yang menyerahkan orang dari kelurahan, alasan dipotong Rp 1.000.000 katanya karena banyak masalah. “Ya saya bingung, jadi saya terima saja,” ucap nenek yang sudah janda tua ini.

Warga lain penerima manfaat juga mengamini hal yang sama. Rata-rata menerima uang upah Rp 1.500.000.

“Selain uang Rp 1.500.000, saya juga menerima material berupa pasir 1 (satu) engkel serta krosok 2 kubik. Dilain waktu ditambah lagi 1 engkel di bagi untuk empat orang,” terang sumber lain yang enggan disebut namanya.

Beda lagi yang diterima Ibu Nisa istri Pak Dahlan, ia menerangkan mendapat bantuan berupa material batubata 4000 buah, semen 25 sak, besi 28 batang, paku 2.5 kg, seng 30 keping, seng perabung 7 keping, krosok 4 kubik, pasir campur 1 (satu) engkel, serta pintu 1 buah.

Ada juga warga yang diiming-imingi akan dapat bantuan lagi, sehingga uang upah tukang diduga tidak diberikan sama sekali. Yang diberikan hanya material.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Suan Amri, saat dikonfirmasi mengarahkan untuk konfirmasi dengan Anhar Ibrahim.

“Beliau dulu yang menjabat, sekarang beliau (Anhar-Red) menjabat Kepala Bidang Program Dinas Pemuda dan Olah Raga,” ujarnya.

Saat disambangi ke kantor Dispora, Anhar Ibrahim tidak berada di tempat.

Tim Tribunpos.com mencoba menghubungi melalui pesan WhatsApp ke nomor handphone Anhar, namun tidak mendapat respon, walau pesan sudah dibaca dengan tanda centang biru.

Sementara itu, Sekretaris Kelurahan Pendopo, Pirlan menyatakan bahwa pemotongan upah tukang program bedah rumah di Kelurahan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan hanya kesalahpahaman saja.

Pirlan menjelaskan terkait upah tukang bukan dipotong tetapi dari awal memang sudah disepakati, upah tukang dibayar setelah pekerjaan selesai 100 persen.

“Namun karena beritanya sudah mencuat, akhirnya kami memanggil kepala tukang, pada tanggal 9 Maret 2021 kami dan kepala tukang langsung melakukan pembayaran sisanya Rp 1.000.000,” ungkap Pirlan kepada Tribunpos.com, Sabtu (13/03/2021).

Menurutnya, semua upah tukang sebesar Rp 2.500.000 sudah dibayarkan, sesuai dengan aturan dan ketentuan. Sekarang tidak ada masalah lagi, hanya miss komunikasi saja.

“Kami pastikan tidak ada pemotongan, saya ikut langsung saat pembayaran kepada penerima manfaat bedah rumah.” ucapnya. (Bagian III)

Editor Berita: Sandi Pusaka Herman Timur

Komentar

Headline