oleh

Kasus Salah Tangkap Pelaku Pemerkosaan, Mabes Polri Turun Tangan: Penyidik Tidak Boleh Seperti Itu

JAKARTA, Tribunpos.com | Proses penyelidikan kasus salah tangkap terhadap seseorang yang dituduh melakukan pemerkosaan di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan menjadi perhatian khusus Mabes Polri. Pasalnya penyelidikan kasus yang diduga melibatkan oknum anggota ke polisian itu menjadi viral dan menyita perhatian Kapolri.

“Kami kedepankan (penanganan oleh) wilayah dulu. Tapi (Mabes Polri) tetap monitor (mengawasi) perkembangannya,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat (1/3) dilansir Merdeka.com.

Seorang warga bernama Haris alias Ujang (25) tiba-tiba diculik sekelompok orang tak dikenal dan dipaksa naik mobil. Ujang kemudian dicecar sejumlah pertanyaan termasuk tuduhan pemerkosaan terhadap seorang bidan berinisial Y yang membuatnya bingung.

Ujang bahkan terluka di sekujur tubuhnya akibat dipukuli sekelompok orang tak dikenal itu lantaran terus mengelak dari tuduhan pemerkosaan.

“Korban (salah tangkap) sendiri, karena kondisinya itu ditutup matanya jadi tidak bisa mengidentifikasi siapa pelakunya,” ucap Dedi.

Pelaku penculikan dan penganiayaan tersebut memang belum teridentifikasi. Namun kuat dugaan, aksi itu melibatkan oknum anggota polisi. Apalagi para pelaku menginterogasi dugaan pemerkosaan bidan Y yang tengah diselidiki kepolisian.

“Pak Kapolda sudah menyatakan apabila terbukti jika anggota polisi melakukan penegakan hukum yang melanggar hukum, tentunya akan ditindak sesuai prosedur yang ada di internal kepolisian sekeras-kerasnya. Karena itu akan mengganggu profesionalitas dan integritas penyidik. Penyidik tidak boleh berperilaku seperti itu,” kata Karo Penerangan Humas Mabes Polri ini.

Sementara itu, hingga saat ini polisi belum menemukan bukti yang memperkuat adanya tindak pidana pemerkosaan terhadap bidan Y. Polisi masih terus mendalami kasus yang dilaporkan bidan desa di Kabupaten Ogan Ilir tersebut.

“Belum ada perkembangan. Saya juga masih nunggu (laporan) Kabid Humas, masih dalam proses pendalaman. Saksi-saksi juga kebetulan sangat minim,” ujar Dedi. (**)

Editor : Sandi Pusaka Herman


Komentar

News Feed