oleh

Kapal Asing Parkir 5 Tahun, Pendapatan BP Batam Tak Jelas, Nota Tagihan Diduga Dimanipulasi

Laporan Wartawan Tribunpos.com, A Mursalim, Batam

BATAM Tribunpos.com | Bea pungut labu tambat kapal asing KM Swiber berbendera negara Panama yang sudah terparkir selama 5 (lima) tahun refair (perbaikan) di Galangan Unitech Sindo Perkasa, Batam diduga dimanipulasi.

Soalnya, kapal yang sudah berganti nama menjadi Hopes 3000 ditaksir harus membayar bea labu tambat ke negara melalui BP Batam senilai lebih kurang Rp18 Miliar. Namun, menurut informasi yang diterima, bea labu tambat tersebut dihitung hanya setelah kapal berganti nama.

Jika itu benar terjadi, maka bea labu tambat yang dibayar diduga tak lebih dari dua bulan saja, alias tidak sampai Rp18 Milyar. Dan jelas itu merugikan negara.

Untuk mencari tau kebenarannya, Tribunpos.com mencoba mengkonfirmasi langsung kepada Kepala Kantor Pelabuhan (Kakanpel) Batam. Nasrul Amri Latief, Kakanpel BP Batam terkesan tak mau terbuka soal pungutan labu tambat tersebut.

Ia bahkan mengelak untuk menjawab pertanyaan awak media ini, dengan melempar jawaban ke staffnya. “Atau bisa hubungi staff saya Djohan, dia lebih tau dan pasti lebih detail datanya,” kata Nasrul kepada Tribunpos.com, Kamis (10/01/2019)

Sementara dikonfirmasi terpisah, Direktur PT. Samudra Tujuh, Frenky yang mengageni kapal asing berbendera Panama itu mengatakan hal berbeda.

Sebagai pihak yang mengageni kapal jenis crane barge tersebut, ia mengaku sudah membayar biaya atas labu tambat kapal berbobot 41000 GT pada Desember 2018 lalu. Tapi Frengky terkesan enggan menyebutkan berapa besaran nilai yang sudah dibayarkan tersebut.

“Berapa dana keluar di nota tagihan, segitu juga kita bayar tagihannya ke Kantor Pelabuhan BP Batam,” tegasnya.

Untuk diketahui, saat ini Kapal Swieber PJW 3000 (Hopes 3000) sudah tidak lagi berada di perairan Indonesia. Kabarnya kini sudah berlayar ke Malaysia. (A Mursalim/Batam/Tribunpos)

Editor : Sandi Pusaka Herman

Komentar

News Feed