PALEMBANG, Tribunpos.com I Satu unit bangunan berukuran 6 x 3 meter yang terletak di Desa Saluran, RT 036, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, terlihat lusuh. Atapnya terbuat dari seng, sisi bangunan dinding pun masih terlihat hanya diplester semen ala kadarnya.

Namun, siapa sangka, bangunan itu merupakan sekolah di perbatasan Kota Palembang- Kabupaten Banyuasin yang digunakan untuk anak-anak di desa setempat belajar.

Meskipun kondisi ruang kelas yang hanya seadanya, para murid di sana tetap belajar dengan semangat untuk menerima seluruh mata pelajaran yang diberikan oleh Siti Komariah.

Siti sudah mengajar sejak 2014 di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 4 Filial. Selama mengajar, ia harus berpikir keras agar setiap muridnya bisa memahami pelajaran yang diberikan.

Betapa tidak, sekolah tersebut hanya memiliki satu ruang kelas tanpa sekat sehingga para murid dari kelas satu sampai kelas enam terpaksa diajar hanya dibatasi setiap bangku yang ada di dalam ruang.

Keterbatasan tersebut tak membuat Siti mundur untuk menjadi tenaga pendidik di sekolah tersebut. Secara sabar, ibu dua orang anak ini pun memberikan pelajaran secara detil kepada muridnya.

“Anak-anak saya panggil ke depan satu-satu agar mereka paham. Tekniknya seperti itu agar tidak mengganggu murid kelas lain,” kata Siti, ketika berbincang dengan Kompas.com.

Di sekolah tempat Siti mengajar ada 25 murid, mulai dari kelas satu sampai kelas enam. Mereka rata-rata merupakan anak petani yang ada di desa tersebut.

Kondisi sekolah yang kurang layak terpaksa digunakan agar para anak-anak di sana masih tetap belajar. Terkadang, Siti pun terpaksa membawa anaknya yang masih kecil ke dalam ruang untuk mengajar. Sementara suaminya pergi ke sawah untuk mencari nafkah.

Gaji Siti sebagai seorang guru tidak mencukupi untuk menghidupi kebutuhan keluarganya. Selama satu bulan, ia hanya menerima honor sebesar Rp 500.000 yang kadang baru dibayarkan selama tiga bulan sekali.

Uang tersebut kadang baru diambil Siti jika ia sedang membutuhkan. Sebab, honor itu hanya bisa diambil Siti ke rumah kepala sekolah yang ada di kawasan Balai Makmur, Desa Merah Mata, Kecamatan Banyuasin 1, Kabupaten Banyuasin. Dari lokasi tempat tinggal Siti dan jarak tempuh menuju ke rumah kepala sekolah memakan waktu sekitar dua jam dengan menggunakan perahu getek.

“Kalau mendesak, baru nyebrang ke Balai Makmur (rumah kepala sekolah). Soalnya ongkos ke sana mahal, naik perahu getek bayar Rp 200.000 untuk pulang pergi,” ujar Siti.

Honor yang diambil itu terkadang tak sepenuhnya digunakan Siti untuk kebutuhan rumah tangganya. Sebagian kadang digunakan Siti untuk membeli peralatan sekolah, seperti spidol dan lain sebagainya.

“Kalau tidak ada spidol, kadang susah hanya menjelaskan murid melalui lisan. Mereka juga butuh mencatat. Spidol itu saya beli sendiri,” ujar dia.

Tahun 2019 bisa dibilang Siti baru bisa menerima honor penuh. Sebab, selama dua tahun sebelumnya, ia tak menerima honor sepeser pun dari pihak sekolah. Meski tak menerima honor selama dua tahun, Siti pun masih mengajar murid-muridnya di sekolah tersebut sampai sekarang.

“Rasa di dalam hati, enggak tega melihat murid saya tidak belajar. Karena saya adalah guru tunggal. Saya ingin mereka bisa lanjut SMP dan menyelesaikan sekolahnya. Suami saya juga kebetulan mendukung,” kata Siti, yang tercatat sebagai lulusan SMA Negeri 1 Makarti Jaya, Banyuasin, tahun 2009.

Siswa Menginap Ketika Ujian Nasional

Perjuangan Siti agar anak didiknya dapat melanjutkan ke jenjang tingkat sekolah menengah pertama (SMP) belum terhenti.

Pada masa ujian nasional, Siti pun meminta tolong kepada keluarganya yang berada di Sungai Lais, Kecamatan Kalidoni, Palembang, untuk menyiapkan tempat untuk murid kelas 6. Sebab, seluruh murid Siti harus melaksanakan ujian di SD Muhammadiyah 4 Sungai Lais.

“Mereka menginap di sana selama delapan hari. Kebetulan ada rumah saudara, jadi bisa dipakai untuk mereka istirahat. Itu tidak dikenai biaya, tapi untuk makan, orangtua murid membeli sendiri,” ujar dia.

Ketika ujian selesai, Siti barulah pulang bersama murid ke desa mereka. “Alhamdulillah, setiap tahun murid saya lulus ujian semua dengan baik,” ucap Siti. (*/Red)

Penulis : Kontributor Palembang, Aji YK Putra
Editor : Robertus Belarminus

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kisah Siti Komariah, Guru Perbatasan di Palembang 2 Tahun Mengajar Tanpa Digaji”, https://regional.kompas.com/read/2019/11/25/14452041/kisah-siti-komariah-guru-perbatasan-di-palembang-2-tahun-mengajar-tanpa?page=all#page2.

 

 

Komentar

News Feed