oleh

Citra Polisi Tercoreng, Brigpol Dewi Selfie Setengah Telanjang Hingga Bripka Yusuf Tewas Dikeroyok

JAKARTA, Tribunpos.com | Menyusul menurunnya citra kepolisian di tahun 2018, ditandai dengan sejumlah kasus hukum dan konsolidasi internal kelembagaan yang dipimpin Jenderal Pol Tito Karnavian itu.

Sepekan terakhir, wajah Korps Bhayangkara kembali jadi sorotan pemberitaan media massa di Tanah Air.


Ada 3 kasus anggota Polri di tiga daerah berbeda. Mulai dari kasus pembunuhan, dugaan bunuh diri, hingga asusila.

Berikut uraian berita yang berhasil dihimpun media ini:

1. Bripka Yusuf Tewas Dikeroyok

Video pengeroyokan Bripka Yusuf, anggota Brimob Detasemen C Belitang Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, menyebar di berbagai media sosial bahkan grup WhatsApp berbagai kalangan.

Dalam video berdurasi 1 menit 17 detik itu, Bripka Yusuf terlihat mengenakan topi hitam, celana pendek, dan berjaket hitam sembari menenteng senjata api dan berdiri di samping mobil sedan warna merah.

Seorang pria berbaju putih, sembari membawa parang, langsung membacok korban dan mengenai mukanya.

Bripka Yusuf pun masih tetap berdiri dan berusaha melawan. Namun, tujuh pelaku lainnya langsung mengeroyok Bripka Yusuf dan menusuknya hingga tewas di tempat.

Bripka Yusuf, anggota Brimob Detasemen C Belitang Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Tewas Dikeroyok

Perekam video pun tampak hanya berada di dalam ruangan dan takut untuk keluar ketika keributan itu terjadi.

Bripka Yusuf akhirnya dibawa dari lokasi kejadian di Jalan Raya Ranau, Kelurahan Batu Belang Jaya, Kecamatan Muaradua, Kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan, Minggu (30/12/2018) kemarin setelah pihak kepolisian setempat mendapatkan kabar keributan tersebut.

Kapolda Sumatera Selatan Irjen Zulkarnain Adinegara mengatakan, pertikaian Bripka Yusuf dan delapan pelaku dipicu akibat salah paham antara korban dan pelaku Yongki (21).

Sebelumnya, Yongki yang mengendarai motor memotong lajur kendaraan Bripka Yusuf sembari memainkan gas motor hingga mengeluarkan suara yang keras.

Merasa tersinggung, Bripka Yusuf mengejar Yongki dan memukulnya menggunakan senjata api hingga keributan pun terjadi.

“Jadi motornya itu digas-gas oleh pelaku. Anggota kami emosi dan mengejarnya, lalu terjadilah selisih paham. Saat itu, senjata api milik Bripka Yusuf pun dikeluarkan dan memukul tersangka Yongki. Zainal dan Nizar melihat Yongki dipukul langsung mendekati dan hendak membantu rekannya itu. Tetapi keduanya juga dipukul memakai pistol, karena emosi, lima lainnya datang dan mengeroyok Bripka Yusuf. Ia dibacok dan ditusuk sampai tewas,” kata Irjen Zulkarnain Adinegara, Senin (31/12/2018).

Pelaku kini sedang ditahan di sel tahanan Mapolres OKU Selatan.

2. Brigpol Dewi Kirim Foto Setengah Tanpa Busana

Polwan bernama Brigpol Dewi yang sebelumnya berdinas pada Sabhara (Satuan Samapta Bhayangkara) mengirim foto selfie setengah tanpa busana kepada seorang “Kompol” atau “Komisaris Polisi” di Lampung, provinsi di ujung selatan Pulau Sumatera.

Walau dirinya seorang polisi, namun Brigpol Dewi dengan mudah terbujuk rayu orang lain yang tak dikenalknya secara pasti.

“Kompol” di Lampung tersebut awalnya dikenal melalui media sosial Facebook, lalu dijadikan sebagai kekasih.

Ilustrasi foto telanjang Brigpol Dewi

Brigpol Dewi percaya pada lelaki yang menjalin hubungan jarak jauh (LDR) dengan dirinya itu karena pangkatnya lebih tinggi.

Sang “Kompol” juga memasang foto profil pria berseragam dinas sebagai foto profil akun Facebooknya yang ternyata foto orang lain.

Apesnya, sang “Kompol” hanyalah seorang narapidana di Lampung, bukan perwira menengah polisi seperti yang ada dalam benak Brigpol Dewi.

Kepastian jika sang “Kompol” adalah narapidana didapatkan setelah polisi melakukan check and recheck di Lampung.

Sang “Kompol” ternyata sedang menghuni lembaga pemasyarakatan karena kasus pembunuhan.

Tak hanya sampai di situ, sang “Kompol” fiktif juga mencelakakan Brigpol Dewi dengan cara menyebar foto setengah tanpa busana tersebut kepada publik melalui media sosial hingga sampai ke tangan Provost Polrestabes Makassar.

Usai foto asusilnya menyebar, Brigpol Dewi yang sempat dimabuk asmara harus menanggung malu.

Tindakan Brigpol Dewi masuk dalam pelanggaran disiplin dan kode etik Polri kategori berat.

“Ya, dia lakukan kegiatan-kegiatan yang asusila,” kata Kapolrestabes Makassar, Kombes Wahyu Dwi Ariwibowo di Mapolrestabes Makassar, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (3/1/2019).

Setelah melalui serangkaian sidang disiplin, diputuskan sanksi dijatuhkan kepada Brigpol Dewi adalah pemecatan.

Kasus foto asusila Brigpol Dewi sebenarnya sudah lama diproses Provost Polrestabes Makassar, namun pemecatannya baru diupacarakan di Lapangan Karebosi, Makassar, Rabu (2/1/2019).

Pada upacara pemberhentian dengan tidak hormat tersebut, Brigpol Dewi tak hadir (in absensia).

Namun, foto close-up dia dengan background (latar belakang) warna kuning dipajang di tribun Lapangan Karebosi.

Hadir, Kapolrestabes Makassar, Kombes Wahyu Dwi Ariwibowo dan Kabid Profesi Pengamanan Polda Sulsel, Kombes CF Hotman Sirait.

“Intinya ini yang bersangkutan kita proses sidang karena langgar kode etik,” ujar Kombes Wahyu Dwi Ariwibowo.

Lanjut, kata Kombes Wahyu Dwi Ariwibowo, di luar kasus asusila tersebut, sebenarnya Brigpol Dewi diketahui rajin menjalankan tugas atau berkantor. Namun, tindakan asusilnya tak dapat ditolerir.

Pada upacara, Rabu kemarin, selain Brigpol Dewi, seorang polisi lainnya juga dipecarat, yakni AKP JNW. AKP JNW melakukan pelanggaran desersi.

3. Bripka Matheus De Han Bunuh Diri?

Bripka Matheus ditemukan tewas di TPU Mutiara, Pancoranmas, Depok, Jawa Barat dengan luka tembak di kepala, Senin (31/12/2018) malam.

Bripka Matheus adalah anggota Polresta Depok yang saat ini di bawah kendali operasi atau BKO Satgas Antiteror Polda Metro Jaya.

Polisi hingga kini belum dapat menyimpulkan motif tewasnya Bripka Matheus De Han.

Kepastian apakah korban dibunuh atau bunuh diri, masih belum jelas dan terus di dalami pihak kepolisian.

Di samping itu, polisi masih menunggu hasil labfor terkait senjata api organik yang ditemukan di samping tubuh Bripka Matheus.

Hal itu dikatakan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Rabu (2/1/2019).

“Sampai saat ini kita masih menunggu hasil pemeriksaan labfor terkait dengan senpi. Jadi sampai saat ini kita masih belum bisa menyimpulkan soal kematian anggota kami iu seperti apa,” kata Argo.

Namun, Kombes Argo Yuwono tak menampik ada indikasi Bripka Matheus bunuh diri.

“Indikasi itu ada, dari beberapa hal yang kita dapatkan, yakni pertama adalah CCTV yang ada di lingkungan keluarga korban maupun di lingkungan TKP. Dimana yang bersangkutan sendirian keluar rumah dengan mengendarai sepeda motornya. Ia sendirian berangkat dari rumah,” kata Kombes Argo Yuwono.

Yang kedua, kata dia, barang-barang korban di TKP tidak ada yang hilang.

“Mulai dari sepeda motor, terparkir dengan rapih, kemudian surat-surat daripada korban. Sementara senpi sudah keluar dari sarang atau sarungnya, dan ditemukan diatas rumput di sekitar body korban,” katanya.

Ketiga kata Kombes Argo Yuwono, dari luka di kepala korban diketahui adalah tembakan yang menempel ke tubuh.

“Jadi seolah-olah tidak ada jarak senjata dengan kepala,” katanya.

Lalu keempat tambah Kombes Argo Yuwono, di HP atau ponsel korban ditemukan pesan yang dikirim korban ke temannya berupa permintaan maaf.

“Sampai sat ini juga kita sudah periksa 8 saksi. Diantaranya mulai penjaga makam, kemudian anggota yang menemukan pertama, tetangga juga kita tanyakan,” katanya.

Sementara untuk keluarga korban kata Argo belum.dimintai keterangan karena masih berduka. “Jadi kita belum menanyakan secara mendalam ke keluarga,” kata Kombes Argo Yuwono. (Red/Tribunnews)

Editor : Sandi Pusaka Herman

Komentar

Headline