oleh

Misteri Taman Cinta

Misteri Taman Cinta

Yang datang kejalan-Mu seorang pengemis tuna wisma yang mengharapkan sebuah sambutan dan sujud, Jiwa yang miskin, di debu pintumu.

Tapi dia pergi tak kemana pun, tak kemana pun sama sekali.
Siapa yang kan dia kunjungi?
Kemana ia kan lari?
Dengan pahanya yang dirapuhkan kekuasaan hasrat?

Dia datang ke pintu-Mu, karena di bumi dan di langit tak dia temukan tempat selain disana.
Dan bagaimana pengemis kan tinggalkan gerbang dari sang Raja dengan tangan hampa?

Tiap detik mataku mencari wajah-Mu. Lapar tuk balasan selamat itu, dan dari saat ke saat jiwaku meminjam penghidupan dari bibir-Mu.

Kucari disini dan disana tapi dapati tak ada relung menyembunyikan-Mu kecuali di relung hatiku. Tiap wajah yang kulihat tanpa wajah-Mu, tampak padaku hanya sebuah awal.

Dimanapun kujeratkan hatiku pada rambut ikal seseorang. Kuserahkan diriku pada seekor naga, Ku tenggelam dalam keterpisahanku namun tak seorang pun, tak ada lawan menggamit tanganku.

Dalam cermin dunia kulihat semata hanya dunia yang pamerkan potret wajah-Mu. Karena sungguh semua dari dunia hanya Dikau tampak semata pantulan atau bayangan.
Mataku tak melihat apapun tiada kemurnian dalam kegelapan dunia.

Ku kembali lagi ke pintu-Mu sambil mengharap, berdoa tuk beberapa anugerah. Di taman cinta-Mu,” Aku hanyalah seekor burung tanpa kicau “.

 

Minangkabau, 26 Mei 2008

 

Komentar

News Feed