oleh

Jika Tak Ada Ranting Yang Bisa Kau pegang, Masih Ada Tuhan Yang Akan Menuntun

-Literasi-63 views

Jika Tak Ada Ranting Yang Bisa Kau Oegang, Masih Ada Tuhan Yang Akan Menuntun

Aris Renaldi, SE


 

“Aku tertunduk lesuh di penatnya hati.
Sebuah luka datang lagi di masa tua Dada ini bergemuruh ingin pecah mengingat kealfaan diri yang pernah terjadi”.

“Kidung itu bergema lagi mengingatkan aku pada kejadian sepuluh tahun yang lalu, kala di mana hidup ini masih di puja”

“Banyak teman memuja diri, hingga badan ini bak raja yang di segani. Apa yang dititahkan pasti dilaksanakan, apa yang di inginkan pasti tercapai”

“Semua seakan dunia ini dalam genggaman, tak ada kendala yang berarti, berapa banyak yang menjilat pantat ini, seolah pantat ini manis bagaikan madu. Tapi semua sudah sirna bagaikan debu, tak ada yang tersisa, semua terbang begitu saja seiring bergantinya waktu”

“Kini baru ku sadari, tak ada teman yang abadi, semua semu, semua palsu. Di saat kita terbaring lemah di dalam pekatnya lumpur tak bertepi, mereka  perlahan pergi tinggalkan ku dalam kesendirian”

“Ohh Tuhan, jika aku tak ceroboh kala itu, semestinya sinar itu masih terang,
Tak seredup saat ini. Mau di kata apa semua sudah terjadi, tak banyak juga yang bisa aku perbuat di saat usia mulai memasuki senja, kecuali hanya bisa menyesali diri.

“Bahwa tak ada yang abadi dalam dunia ini, matahari akan tenggelam bila sudah waktunya, bulan ada masanya bisa purnama, begitupun hari jika saat ini siang tentu akan merambat senja pun menjemput malam”

“Aku ingin kuat, aku harus bangkit lagi, tapi adakah jalan itu Tuhan..?
Pada tangkai apa aku harus berpegang?
Pada dahan mana aku bisa meniti?
Sehingga badan rapuh ini masih bisa berdiri tegak walaupun tak sekuat dulu, karna hidup ini terus berjalan..!”

“Kidung itu bergema lagi, aku masih tertunduk lesuh sembari memegang ujung bajuku yang sudah lusuh dan dekil”

“Kidung itu masih bersenandung mengiringi langkahku yang tetatih – tatih dalam kelamnya malam di sudut kota. Kidung itu masih bersenandung terdengar sayup – sayup di sudut kamarku yang penuh coretan yang tak berarti”

“Aku tersentak di kala kidung itu tetap terdengar sayup – sayup. Seberkas sinar menyusup diselah – selah atap rumah ku yang bocor. Bias sinarnya menusuk ubun – ubun kepalaku seolah – olah berkata ” jika tak ada ranting yang bisa kau pegang, masih ada Tuhan yang akan menuntunmu. Perjalanan ini masih panjang, masih ada malaikat – malaikat kecil yang harus kau antar kemana dia menuju”.

“Aku sadar, kidung itu juga hanya sebuah lagu dan nantinya juga akan berakhir jikala waktunya sudah tiba”.

Penulis : Ketua umum LPJD dan Wartawan Mesuji 

Komentar

News Feed