oleh

Potret kehidupan : “ Istriku Pulanglah, Tidakkah Kau Kasihan dengan Anak-anak Kita Yang Sangat Membutuhkan Kasih Sayangmu”

TRIBUNPOS MESUJI , LAMPUNG ꟷ Banyak kejadian yang tak masuk akal di tengah adanya pandemi covid 19 ini. Seperti yang terjadi dengan keluarga kecil Aan (34) warga Desa Brabasan, Kecamatan Tanjung Raya Mesuji.

Permasalahan ekonomi yang membelit rumah tangga ini membikin keluarga kecil ini jadi terguncang hebat dan tidak menutup kemungkinan hancurnya rumah tangga yang sudah di bina bertahun-tahun.

Tulisan ini bermula dari keterkejutan kami selaku awak media melihat dua orang bocah kecil yang sedang menjajakan dagangannya (jeruk local) yang tak begitu banyak di trotoar jalan.
Dua bocah kecil ini menawarkan jeruknya di pinggir jalan, tepatnya di depan Tugu Macan” Desa Brabasan.

Dengan sabar dan rasa kantuk yang mendera, dia menunggu pembeli yang mau membeli dagangannya.

“Adek, jeruknya berapa satu kilo?,” ucap Awak media tribunpos pada anak itu, Sabtu (17/10/2020).

“Kalo yang ini Rp.15000 (sembari menunjuk jeruk yang besar), kalo yang ini 2 kilo Rp 25000 om (sambil menunjuk buah yang sedang). Kalo yang itu yang kecil Rp.10000, terang dua bocah penjual jeruk pada Awak media.

Tanpa menawar kami langsung membeli dagangannya. Ya sudah, om beli yang ini aja dek ya. 2 kilo, kata awak media pada bocah itu.

“Oh iya om, ” ucap mereka berdua.
Dengan cekatan bocah ini menimbang jeruk yang awak media pinta.

Awak media juga mencoba mengajak dua adik kecil ini berbicara, dari keterangan mereka, Awak media mengetahui nama mereka.

Media : ” Adek namanya siapa?
Dian    : “Kalo saya Dian om, kalo adek saya namanya Malika..!
Media : “Emang bapaknya kemana adek?
Dian    : “Bapak lagi pulang om kerumah, bentar lagi paling kesini lagi.”
Media : “Terus ibunya kemana? kok gak nemeni adek jualan?
Dian   : Ibu pergi om, katanya kerja ke Jakarta.
Media : Sudah lama ibunya pergi?.
Dian    : Sudah cukup lama juga om..!
Media : Lha kenapa ibunya pergi dek?
Dian    : Gak tau om, katanya kerja di Jakarta.
Media : Sering gak ibunya ngehubungi Dian?
Dian    : Kalo dulu sering om, tapi akhir- akhir ini jarang!
Media : Kalo sama bapak sering gak?.
Dian    : Jarang juga om telponan.
Media : Dian masih sekolah?
Dian    : Masih om.
Media : “Dian sekarang kelas berapa?
Dian    : “Kelas lima.
Media : “Pengen nggak ibunya pulang dek?
Dian    : “Kalo bisa suruh mamak pulang om…!!!. Kami kangen sekali dengan mamak kami om…!!!

Dalam hati awak media membatin, kasihan sekali nasib anak-anak ini, di mana di saat anak-anak ini masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, mereka malah disuguhkan cerita pilu dan kerasnya kehidupan, mereka harus berjuang membantu sang ayah untuk mencari rezeki demi tuntutan hidup.

Lagi hangatnya kami mengobrol dengan dua bocah inj, datang sang ayah dari anak-anak in. Dengan sedikit basa basi kami bersalaman dengan ayah dari kedua anak ini, tidak lupa kami menanyakan kemana ibu dari anak-anak ini.

Awalnya Aan tidak begitu terbuka dengan kehidupan rumah tangganya, dia masih berkelit jika istrinya cuma kerja di Jakarta sana. Tapi begitu kami ungkapkan bagaimana kerinduan dua anak ini pada ibunya, barulah Aan mau berbicara pada kami.

Sebelum bercerita Aan sempat menarik nafas supaya apa yang di sampaikannya ini benar adanya dan bisa menggugah hati dari istrinya supaya mau segera pulang dan menata kembali rumah tangganya, apa lagi anak-anak katanya masih sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu.

Kejadian ini bermula, kata Aan, awalnya dia terlibat suatu masalah hukum, karena dia membela kebijakan seorang oknum, sehingga dia harus mendekam dalam penjara selama satu tahun.
Berkat program asimilasi tahun kemarin akhirnya hukuman itu cuma dia jalani selama enam bulan saja. Semua harta yang ada habis mereka jual semasa waktu mengurus berkas masalah dia, sehingga tak ada lagi yang tersisa, mereka jual semua. “Mungkin awalnya dari sini sehingga istrinya pergi dari rumah, mungkin gak tahan dengan omongan orang dan kesusahan hidup yang dia jalani. Saya sangat mengerti bang,” ucap Aan pada media.

“Tapi demi Allah bang, itu bukan kemauan saya. Jalan hidupku harus berkata lain, ini semua karena saya membela seseorang. Tapi sudahlah, itu tak perlu di ungkit-ungkit lagi, hanya menambah beban hidup saya saja,” ungkap Aan.

“Tinggal yang saya pikirkan kelangsungan hidup dari keluarga saya, anak-anak saya masih sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ibunya, saya ngerti bang, dan juga paham. Nggak tega rasanya lihat anak-anak membantu saya begini, tapi saya juga nggak mau mereka tinggal bertiga saja di rumah tanpa pengawasan dari orang tua. Saya takut terjadi apa-apa dengan mereka jika tak di awasi. Makanya saya biarkan anak-anak membantu saya berdagang begini,” urai Aan.

Oleh karena itu dari hati yang sangat dalam dia berharap betul, istrinya membaca tulisan ini dan mau pulang dan membesarkan anak-anak bersama-sama lagi. ” kita bangun lagi bersama-sama, insya Allah saya akan berupaya sekuat tenaga, saya akan membahagiakan mereka,” harap Aan dengan mata berkaca-kaca.

Di tanya media apakah dia masih mencintai istrinya, secara langsung Aan menjawab,”Masih bang, saya sangat mencintai dia dan berharap dia pulang. Istriku, tidakkah kau kasihan dengan anak-anak kita yang sangat membutuhkan kasih sayangmu. Pulanglah istriku, kami sangat berharap kepulanganmu,” harap Aan tak kuasa menahan butiran air matanya.

Dari fenomena kejadian di atas kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa hidup ini memang banyak tantangan. Tapi terlepas dari itu, sebesar apapun masalah yang kita hadapi, sebaiknya jangan sampai mengorbankan kebahagian anak-anak. Perpecahan dan perseteruan dalam rumah tangga pada akhirnya berdampak pada anak-anak. Jangan korbankan meraka demi ego kita sebagai orang tua, karena sejatinya kita sebagai orang tua punya beban moral untuk membahagiakan mereka sedapat yang kita bisa.

Wartawan : Aris Rinaldi
Editor         : Liz Chaniago

Komentar

News Feed