oleh

Indonesia Krisis Regenerasi Petani

TRIBUNPOS.COM | Berdasar hasil riset Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) “Regenerasi Petani” disimpulkan bahwa Indonesia sedang berada dalam kondisi krisis regenerasi petani.

Mata pencaharian tersebut, tak lagi seksi di mata anak muda. Sebanyak 54 persen anak petani yang juga menjadi responden mau meneruskan apa yang dikerjakan orangtuanya. Sedangkan 46 persen sisanya tak terpikirkan, atau bahkan menolak dengan tegas.

Kondisi petani yang tergerus zaman menjadi ironis kala dihadapkan dengan kebutuhan pangan untuk kehidupan yang akan terus ada.

Meskipun saat ini, data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2018 mendapati jumlah pekerja di sektor pertanian masih tergolong besar, yakni tercatat 35,7 juta orang atau 28,79 persen dari total penduduk bekerja.

Akan tetapi, bukan tidak mungkin pada tahun-tahun mendatang jumlahnya menurun signifikan sehingga menimbulkan kerentanan.

Forum Sahabat Keluarga dari Kemendikbud menyebut, di luar anggapan profesi yang tidak bergengsi, dua dari alasan hal itu terjadi berhubungan dengan persoalan finansial.

Bertani dianggap tidak memberikan jaminan finansial karena generasi muda melihat sebagian besar petani memiliki pendapatan yang rendah, rumah yang dimiliki sangat sederhana, dan gaya hidup seadanya.

Petani Butuh Solusi

Untuk keluar dari masalah itu, masyarakatnya sendiri harus sadar akan kebutuhan dan potensi.

Patut dicermati, Indonesia sebagai negara agraris seharusnya dapat menjadi peluang menjanjikan bagi petani kalau dilakukan dengan tepat. Apalagi, bidang pertanian merupakan salah satu sektor andalan penopang roda ekonomi nasional.

Sayangnya, ada beberapa permasalahan besar dan kendala bagi petani yang saat ini belum dapat terselesaikan. Seharusnya ini bisa ditanggulangi untuk membaca masa depan petani di Indonesia.

Melansir dari Kompas.com, sejumlah petani yang ada di kawasan Sidomulyo Tembesi, Batam, Kepulauan Riau memilih membabat habis tanaman sayur mereka sendiri.

Hal ini dilakukan mereka karena merasa kecewa dengan harga sayuran yang saat ini sangat anjlok dipasaran.

Jangankan mengupayakan pengembangan usaha agar kehidupannya sejahtera mereka, untuk mendapatkan akses sarana produksi usaha yang dijalani seperti benih, pupuk, dan pestisida pun masih kesulitan. Kebanyakan dari mereka tak punya cukup modal.

Untuk menjangkau pinjaman dari pihak ketiga seperti bank konvensional pun sulit, terutama bagi mereka yang kebanyakan berada di pelosok Indonesia.

Biasanya, institusi keuangan seperti bank mewajibkan banyak syarat, termasuk bukti pendapatan rutin yang kemudian membuat petani mundur.

Kalau pun ada, biasanya mereka mencari solusi lain yakni lewat bank keliling atau rentenir. Cara ini pada dasarnya tidak menjadi jalan keluar yang tepat karena ujung-ujungnya malah jadi beban yang tak kunjung selesai.

Agar profesi sebagai petani jadi bergengsi, hal-hal tadi harus segera diselesaikan. Akan tetapi, mengharapkan kesadaran masyarakat saja tidak cukup.

Untuk permasalahan vital se perti finansial, penanggulangannya juga membutuhkan banyak pihak untuk berperan serta.

Selain pemerintah, lembaga keuangan juga perlu ikut turun tangan. (**)

Editor: Sandi Pusaka Herman

Komentar

News Feed