oleh

Patung Fir’aun dan Patung Dajjal Hiasi Pembangunan “WAS” Menuai Protes Tajam

TRIBUNPOS BENGKULU SELATAN – Kalangan masyarakat Bengkulu Selatan mengapresiasi soal niat pembangunan tempat wisata dan Yo wisata di Kab. Bengkulu Selatan yang sama-sama kita cintai ini.

Termasuk soal pembangunan konsep ‘WISATA ALAM SEKUNYIT’ kita juga turut bahagia dan apresiasi dgn luar biasa, karena ada pihak pengusaha lokal ingin memajukan sektor pariwisata di daerah kita, khususnya kawasan pantai,yaitu seorang pengusaha keturunan Tionghoa.


Kita tahu bahwa kawasan samudera indonesia yang terbentang di bibir pantai di kab. Bengkulu Selatan yang sering juga kita sebut Bumi Sekundang Setungguan ini adalah Anugerah Tuhan Allah SWT bagi negara Indonesia, bagi Provinsi Bengkulu, dan terutama bagi orang-orang asli yang berada di Bengkulu Bagian Selatan dan mereka hidup disekitarnya.

Sejak lama kawasan pantai yang terdapat di Kab. Bengkulu Selatan ini sudah menjadi destinasi wisata baik bagi wisatawan lokal ataupun luar daerah, bahkan manca negara.

Selama ratusan tahun, tidak ada terdengar kesulitan bagi siapapun, agama apupun, suku bangsa apapun, atau negara manapun untuk dapat hadir atau datang serta berkunjung sekedar menikmati keindahan Bumi Sekudang Setungguan ini.

Bahkan selama ini begitu banyak orang datang dan bahkan menetap menjadi penduduk di Kab. Bengkulu Selatan, walaupun mayoritas penduduk asli menganut Agama Islam, tapi warga Bengkulu Selatan sangat menerima dengan lapang dada kehadiran saudara-saudara kami pemeluk agama lain, suku daerah lain, bahkan suku bangsa lain, sehingga terbukti keharmonisan kehidupan antar suku dan umat beragama sangat terasa damai dan indah.

Suku Serawai merupakan suku asli dan merupakan penduduk mayoritas di Kab. Bengkulu Selatan, mereka memberlakukan pendatang baru sebagai ‘ADIAK SANAK’ (saudara) ataupun dengan sebutan ‘MENDAH’ (tamu) yang kesemua itu disambut dan diterima layaknya saudara sendiri.

Kembali kepada konsep pembangunan kawasan wisata oleh pihak tertentu di Kawasan Bibir Pantai Sekunyit Kab. Bengkulu Selatan, kita semua tahu akhir-akhir ini menjadi buah bibir ditengah masyarakat lokal, bahkan viral di media sosial karena banyaknya penolakan para perantau putra/putri asli asal Bengkulu Selatan melihat konsep pembangunan wisata ini.

Kawasan bibir pantai di rubah sedemikian rupa menjadi sebuah tempat wisata dengan konsep yang belum begitu jelas, entah konsep apa yg mau ditawarkan sang pemilik kepada masyarakat banyak terhadap pembangunan kawasan wisata yg mereka sebut “WISATA ALAM SEKUNYIT” ini..???

Yang menjadi sorotan warga adalah dalam kawasan wisata yg dibangun ini dan sudah mulai rame dikunjungi oleh masyarakat ini (warga yang masuk harus membayar) terdapat bangunan miniatur yang kalau kuta lihat kasat mata sepeetinya mirip dengan Bangunan Ujung Menara Babilonial Raja Namrud, dan juga terdapat Patung Raja Fir’aun dan Bala Tentara Perangnya, juga terdapat menara segitiga dengan lukisan bermacam simbol, yang paling menjadi sorotan ada ‘GAMBAR MATA DAJJAL’ . Dikawasan ini juga terdapat patung-patung perempun minim busana ‘Patung Porno’ Sebagain warga menyebutnya.

Sedangkan kita tahu kesemua bangunan, patung dan gambar simbol itu sangat bertentangan dengan ajaran agama tertentu, terutama agama Islam yang merupakan agama mayoritas bagi warga Bengkulu Selatan.

“KONSEP PEMBANGUNAN WISATA INI LANGSUNG MENDAPAT RESPON PENOLAKAN SENGIT DARI BERBAGAI ELEMEN” maka menurut pendapat kami konsep pembangunan tempat wisata ini akan menimbulkan stigma baru yang berpotensial menimbulkan gesekan dan keresahan sosial serta konsep pembangunan telah mengangkangi Penafian Kearifan dan Potensi Budaya Lokal Setempat.

Jika konsep pembangunan tempat wisata ini tidak segera dihentikan atau ditinjau ulang tentang konsepnya, maka kami yakin gelombang penolakan akan terus mengalir, bahkan jangan sampai hal ini menjadi pemicu konflik horizontal.

Salah seorang aktifis dan juga politikus Bengkulu selatan yang disela-sela mudiknya menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat wisata tersebut yaitu FIKRI SENADA M, ST adalah putra asli Bengkulu Selatan, selaku pendiri sekaligus Admin GRUP JEMAU KITAU (GJK) yang merupakan wadah silaturahim bagi para perantau dengan sanak saudara yang berada di perugan dusun laman, yang sangat menyayangi tanah kelahiran kami dusun laman tercinta. Kami secara tegas akan melakukan respon penolakan yg positif dan langkah-langkah strategis dalam menyikapi penolakan konsep pembangunan tempat Wisata Alam Sekunyit ini.

1. Meminta kepada MUI Bengkulu Selatan mewakili umat islam daerah ini utk mempertanyakan secara tegas dan langsung kepada pihak Pemda Bkl Selatan soal pembangunan tempat wisata ini dan menolak keras pemasangan simbol-simbol yg sangat bertentangan dgn ajaran agama tertentu, terutama agama Islam.

2. Meminta kepada pemda Bkl Selatan dalam hal ini kepala daerah utk memberikan penjelasan kepada masyarakat Bkl Selatan soal Ijin Pembangunan, legalitas kepemilikan lahan bibir partai, AMDAL, serta ijin peruntukan. Agar tidak menjadi tanda tanya yang tidak ada jawaban.

3. Kepada ketua MUI Bkl Selatan untuk turun tangan dan proaktif atas penolakan konsep pembangunan tempat wisata ini karena terdapat bangunan dan simbol2 yang bertentangan dengan ajaran islam. Jika saudara Ketua MUI Bkl Selatan tidak mampu. Maka dengan tegas kami memohon saudara ketua MUI Bkl Selatan untuk dengan hormat segera MENGUNDURKAN DIRI.

4. Dalam waktu dekat akan membuat PETISI PENOLAKAN yang akan ditanda tangani oleh warga masyarakat Bkl Selatan (bagi yang setuju) sebagai bentuk penolakan secara nyata atas konsep pembangunan Wisata Alam Sekunyit ini.

5. Terakhir kami tetap menghimbau dan memohon kepada adiak sanak warga Bkl Selatan untuk tetap menjaga ketertiban umum dan kenyaman ditengah masyarakat, jangan mudah terhasut atau terpropokasi, tidak melakukan tindakan melawan hukum dan norma adat.

Demikian penyampaian gerakan moral ini kami sampaikan secara terbuka dan berharap semua pihak bisa memahami demi kelangsungan kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat Bengkulu Selatan yang sama-sama kita cintai ini.

Wartawan : Ham

Komentar

Headline