oleh

Mubazir, Proyek Pembangunan MCK Desa Tanara Tak Bisa Dipakai, Air Bersih Tak Keluar

Laporan Wartawan Tribunpos.com, Lahudin, Serang, Banten

SERANG, Tribunpos.com | Pekerjaan kegiatan pengelolaan dan pengembangan air bersih dengan penyediaan prasarana air bersih, yang telah rampung dikerjakan oleh CV. Karya Sejati, mendapatkan respon negatif dari masyarakat sekitar.

Pasalnya, pembangunan fasilitas kamar Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) yang berlokasi di Desa Tanara RT 02 RW 01, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Banten dengan anggaran mencapai Rp146 juta lebih yang bersumber dari Anggaran APBD-P Provinsi Banten tahun anggaran 2018, keadaan saluran air keran tidak berfungsi.

Deni, anggota Karang Taruna Desa Tanara kepada Tribunpos.com menyayangkan dengan sikap pelaksana yang seolah hannya mencari keuntungan semata. Dirinya merasa bahwa program MCK di Desa Tanara, jauh dari harapan.

“Sekarang kondisi MCK tidak bisa di gunakan oleh masyarakat. Padahal besar harapan masyarakat Desa Tanara, program ini bisa dirasakan manfaatnya,” keluhnya kepada wartawan media ini, Selasa (7/1/2019).

Masih kata Deni, mengingat saat ini masyarakat Desa Tanara sangat membutuhkan air bersih dan kakus bersih, untuk menghilangkan kebiasaan mandi dan buang air besar setiap hari selalu di sungai yang kotor.

Seyogyanya, dengan adanya program tersebut, masyarakat desa sangat gembira dan berterimakasih atas program Pemerintah Provinsi Banten. Akan tetapi, apa yang didapatkan, jauh dari kenyataan dari harapan. Dimana keran air tidak berfungsi sama sekali.

“Harapan hanya tinggal harapan. Satu bulan sudah pekerjaan proyek dianggap selesai, serta ditinggalkan oleh pelaksana dan pekerja dengan kondisi tidak bermanfaat, alias mubazir,” tambahnya.

Terpisah, Deni AF, warga lainnya meminta kepada pihak Pemerintah Provinsi Banten untuk meninjau ke lokasi proyek. Dikarenakan program tersebut belum dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.

“Buat apa bangunan bagus, kalau tidak ada airnya. Kami hanya menginginkan sarana air bersih, bukannya bangunan yang mewah,” katanya.

Terkait tidak berfungsinya keran air, Deni AF berujar, seharusnya pihak dinas terkait memberikan teguran terhadap pelaksana proyek untuk melakukan pengeboran lebih dalam lagi, agar masyarakat bisa merasakan air bersih.

“Harusnya diberikan teguran keras terhadap pelaksana kegiatan. Karena pelaksana meninggalkan kerjaan yang belum rampung sepenuhnya,” tambahnya dengan nada kesal. ***

Editor : Sandi Pusaka Herman

Komentar

News Feed