oleh

Berkah Tol Palembang-Lampung Bagi Kemajuan Pariwisata Dua Provinsi

TRIBUNPOS, PALEMBANG I Perjalanan 12 jam menumpang bus antarkota melintasi jalan lintas timur (Jalintim) bukan kepalang menyiksa siapa saja. Tapi, tak ada pilihan lain, inilah satu-satunya akses Kota Palembang-Lampung, berjarak lebih kurang 380 Kilometer.

Jika mau ke Jawa pun, bus-bus dari kota-kota di Sumatera juga harus melalui Jalintim ini, yang mana sebagian besar jalannya kurang terpelihara, mulai dari wilayah Sumatera Selatan memasuki Kabupaten Ogan Ilir, Kayuagung (OKI), Muarenim, Lahat, Baturaja (OKU), OKU Selatan hingga Manggala-Lampung.


Namun, kisah ini sudah berlalu setelah terbukanya Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayuagung (189,2 Km) pada 15 November 2019 dan Bakauheni-Terbanggi Besar (140,9 Km) pada 8 Maret 2019. Terakhir, Tol Palembang-Kayuagung (33,5 Km) yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 26 Januari 2021.

Dua provinsi yang berjarak 373 Kilometer itu kini dapat ditempuh hanya dalam waktu kurang lebih 3 jam.

Perjalanan pun terbilang sangat nyaman karena jalur tol ini sebagian besar konstruksinya mendatar. Sensasi melintasi jalan yang mulus itu sudah dirasakan sejak masuk pintu Tol Keramasan, Palembang menuju Kayuagung.

Panorama alam pun berbeda jika dibandingkan dengan tol yang ada di Jawa. Jalur tol JTSS ini melintasi persawahan, terkadang membelah kawasan perkebunan sawit, karet dan tebu, serta hutan alam sehingga cukup untuk memanjakan mata.

Pendeknya waktu tempuh dan kenyamanan saat melintasi tol ini juga yang melatari sebagian warga Kota Palembang, ibu kota Sumatera Selatan, mudah saja untuk menghabiskan ‘weekend’-nya di Lampung, provinsi yang menawarkan wisata alam nan indah.

Salah satunya, Amelia Yurnita (36), warga Kecamatan Sematang Borang Palembang. Jika ada tanggal ‘kejepit’ maka tanpa pikir panjang, ia dan suaminya langsung memboyong tiga buah hati mereka untuk berlibur ke provinsi paling timur Pulau Sumatera itu.

Dengan menggunakan mobil pribadi, ia pun percaya diri untuk berlibur walau hanya mengantongi uang kurang dari Rp5 juta. Padahal, jika ingin berlibur ke Jawa, maka uang tersebut hanya cukup untuk biaya tiket pesawat terbang (pp) saja. Sementara berlibur ke Lampung dengan biaya tol hanya Rp500.000 (pp).

“Kami masuk pintu Tol Keramasan pukul 11.48 WIB, dan kurang lima menit pukul 15.00 WIB sudah di Lampung (kecepatan 100 Km/Jam). Benar-benar tidak terasa, bahkan sampai tidak mampir ke Rest Area lagi,” kata Amelia di Palembang, Jumat (19/3).

Tentunya bukan hanya Amelia yang saat ini mengandrungi liburan ke Lampung setelah terbukanya akses jalan bebas hambatan tersebut. Bisa dikatakan, kini sebagian warga Kota Palembang sudah menjadikan kota itu sebagai tujuan wisatanya dalam setahun terakhir.

Saat itu, lalu lintas Lampung pada setiap hari libur (Sabtu-Minggu) selalu dipadati kendaraan bernomor polisi BG. Adanya perbedaan mencolok antara kedua provinsi terkait ragam wisatanya menjadi latar belakang mengapa warga Sumsel membidik Lampung sebagai tujuan.

Kota Palembang yang menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Selatan memiliki keunggulan dari sisi wisata sejarah, seperti Benteng Kuto Besak, Jembatan Ampera, Kampung Arab, dan lainnya. Kemudian juga memiliki wisata olahraga karena keberadaan Kompleks Olahraga Jakabaring Sport City.

Namun dari sisi wisata alam, Kota Palembang praktis hanya mengandalkan wisata di kawasan Sungai Musi menggunakan perahu cepat.

Berbeda dengan Provinsi Lampung yang memiliki keunggulan dari sisi wisata alam karena memiliki laut dengan gugusan pantai yang elok.

Wakil Ketua Bidang Pemasaran Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Lampung yang juga salah satu manajer hotel berbintang, Adi Wahyu, mengatakan, terbukanya akses Tol Palembang-Lampung sejak 2019 ini telah berdampak positif pada bisnis pariwisata di Lampung.

“Sebelumnya, hanya Sabtu dan Minggu saja kami full, kini dari hari Jumat. Bukan hanya untuk hotel bintang, non bintang pun penuh. Malah waktu libur (26-28 Maret 2021) full 100 persen,” kata Adi.

Ia tak membantah salah satu pendongrak utamanya yakni adanya wisatawan asal Sumatera Selatan. Konten wisata alam yang ditawarkan berupa laut dan pantai ternyata demikian menarik bagi warga Sumsel, sehingga sekitar 80 persen yang menginap di hotelnya saat weekend ialah mereka.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang Isnaini Madani mengatakan saat ini Sumsel terus berbenah agar keuntungan atas keberadaan Tol Palembang-Lampung ini bukan hanya dinikmati Lampung saja.

Kiatnya dengan dengan membuat paket wisata bersama mengingat kedua daerah memiliki keunggulan masing-masing. Paket wisata itu, semisal paket wisata empat malam (satu malam di Palembang, tiga malam di Lampung).

“Palembang dan Lampung itu benar-benar berbeda. Palembang itu ada sungai, Lampung ada laut. Kuliner juga beda, apalagi sosial dan budaya dan adat istiadatnya,” kata dia.

Tapi jika berbicara mengenai wisata alam, sesungguhnya Sumsel tidak kalah dibanding Lampung karena juga memiliki Gunung Dempo di Kota Pagaralam dan Danau Ranau di Kabupaten OKU Selatan (berbatasan langsung dengan Lampung Barat).

Potensi wisata di kabupaten/kota ini dipastikan bakal tergalih karena Hutama Karya juga sedang membangun sirip Tol Trans Sumatera, seperti jalan tol yang menghubungkan Sumsel-Bengkulu (Inderalaya-Prabumulih-Muaraenim-Lubuklinggau-Bengkulu), dan Sumsel dengan Provinsi Jambi (Simpang Betung-Tempino-Jambi) dengan target selesai pada 2024.

Melalui perbedaan ragam wisata itu, Sumsel berharap kedua provinsi dapat saling melengkapi sehingga sama-sama meraup berkah atas hadirnya rangkaian Jalan Tol Trans Sumatera ini.

Bahkan hadirnya Tol Palembang-Lampung ini, menjadi spirit baru pemkab/pemkot untuk mengembangkan sektor pariwisatanya, seperti Kabupaten Lahat, Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten Muareenim.

Sumsel pun optimistis dapat mendongkrak jumlah wisatawan nusantara menjadi 2,1 juta orang per tahun seperti sebelum adanya COVID-19. Sementara pada 2020 tergerus sehingga hanya 800.000 orang.

“Kami akan mulai dengan membuat tagline dan branding bersama dengan Provinsi Lampung, tidak muncul sendiri-sendiri tapi benar-benar konsepnya bersama,” kata dia.

Adanya anggapan bahwa Lampung yang lebih banyak menuai keuntungan atas hadirnya tol ini, tidak sepenuhnya benar.

Endang, warga Bandar Jaya mengatakan dirinya bahkan sudah beberapa kali ke Palembang untuk berlibur atau sekadar ingin menyantap buah durian. Ia yang memiliki banyak kerabat di Palembang pun merasa tertolong berkat adanya tol ini.

Hanya bermodalkan e-toll Rp500 ribu, ia sudah bisa mengakses jalan bebas hambatan untuk pulang dan pergi dari Lampung ke Palembang. Fasilitas tempat berhenti (Rest Area) juga terbilang sudah lengkap karena dilengkapi SPBU dan minimarket.

“Benar-benar nyaman, rasanya Lampung dan Palembang itu dekat sekali. Sekejap sudah sampai,” kata dia.

Membawa Berkah

Salah satu daerah yang menuai berkah atas hadirnya Tol Palembang-Lampung yakni Kayuagung, ibu kotanya Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Kabupaten ini memiliki satu ruas yakni Pematang Panggang-Kayuagung sejauh 77 Kilometer.

Hadirnya tol ini dalam dua tahun terakhir ini telah mengubah pola kehidupan masyarakat setempat. “Kami (warga Kayuagung) kini weekend-nya di Lampung,” kata Adi, salah seorang warga setempat.

Sejumlah warga setempat lainnya juga mengakui bahwa saat ini jauh lebih ramai dibandingkan sebelumnya. Kafe-kafe bertumbuh, dan rumah makan selalu dipadati pengunjung di malam hari karena banyaknya pendatang.

Ini tak lain karena sejatinya Kabupaten OKI memiliki magnet tersendiri sejak lama, yakni sebagai pusat bisnis komoditas karet, sawit dan kayu.

Revo Wasrika, pemilik kafe di Kayuagung mengatakan dirinya bahkan percaya diri membuka usaha di tengah COVID-19, sejak Juli 2020.

“Kayuagung ini sejak lama menjadi tujuan bisnis, mulai dari bisnis kayu, ikan, karet dan sawit. Sejak ada tol jadi lebih ramai lagi, saya lihat ini suatu peluang,” kata dia.

Sementara itu, Bupati Ogan Komering Ilir Iskandar mengatakan manfaat tol ini sudah dirasakan secara langsung oleh warga OKI. Kini jalur darat menjadi pilihan apalagi di tengah COVID-19 karena kurang lebih lima jam untuk menjangkau Jakarta (sudah termasuk satu jam perjalanan di kapal penyeberangan Bakauheni-Merak) dari Kayuagung.

Di Rest Area, bertumbuh rumah makan yang menyajikan menu makanan khas Sumsel, seperti pindang ikan. Para pelaku UMKM juga dapat menjual hasil kerajinan khas OKI berbahan daun purun yang sudah dibuat menjadi tikar, tas, sandal di dua lokasi Rest Area yang ada di ruas Kayuagung-Pematang Panggang.

Hanya saja, agar lebih maksimal, Pemkab OKI mengharapkan HK lebih banyak membuka Exit Tol agar daerah yang ada di sepanjang jalur tol dapat terstimulus kemajuannya.

“Rencananya akan dibuka satu lagi di Pasar Siberuk dekat Lempuing Jaya. Tahun ini rencananya, karena lahan sekitarnya sudah dibebaskan,” kata dia.

Kemudian, Pemkab OKI juga mengharapkan dibuatkan Exit Tol di kawasan Jejawi karena lokasinya berada di tengah-tengah ruas Pematang Panggang-Kayuagung. Menurutnya, Exit Tol ini dapat segera diwujudkan karena sudah dilakukan pembebasan lahannya.

Ke depan, seiring dengan banyaknya kedatangan pebisnis ke OKI, pemkab akan mengembangkan sektor pariwisata terutama destinasi wisata di kawasan Teluk Gelam.

Pemkab OKI juga mendapatkan Pendapatan Asli Daerah atas hadirnya jalan tol tersebut dari sektor PBB Jalan Tol. Bahkan saat kontruksi jalan tol, pemerintah daerah telah menerima share pendapatan dari sektor pajak mineral bukan logam (pajak galian C) senilai Rp24 miliar dari Hutama Karya.

Termasuk juga mendapatkan share pendapatan dari tarif tol yang diterima setiap tahun sebagai pendapatan daerah.

Project Director Toll Road Construction Division PT Hutama Karya (Persero) Hasan Turcahyo mengatakan jalan tol yang menghubungkan Palembang-Lampung merupakan bagian jaringan Tol Trans Sumatera yang progres pembangunannya paling cepat selesai.

Walau demikian, perseroan tidak sekadar memikirkan keuntungan dengan mengabaikan keselamatan pelanggan. Hutama Karya pun melakukan aksi di lokasi tol untuk meminimalisasi tingkat kecelakaan dengan menggelar patroli rutin dan penindakan truk ODOL. Tentu saja, dalam melakukan penindakan, petugas menggandeng kepolisian dan dinas perhubungan (dishub).

Selain itu, HK juga melakukan aksi simpatik melalui program pemasangan warning lamp hingga rumble strip dan dot guna mengantisipasi terjadinya microsleep (mengantuk sekejap) pada pengguna jalan.

“Masyarakat dan pengguna jalan diharapkan lebih berhati-hati dengan menaati peraturan standar berkendara di jalan tol,” kata Hasan.

Pengamat Ekonomi Sumsel dari Universitas Sriwijaya Palembang Bernadette Robiani mengatakan hadirnya Tol Palembang-Lampung ini berdampak positif di berbagai sektor terutama pariwisata.

Hanya saja, saat ini Lampung yang lebih dahulu mendapatkan keuntungan karena telah didukung infrastruktur yang memadai untuk menuju destinasi wisatanya.

“Situasi ini berbeda dengan Sumsel, yang mana jika mau berwisata ke Kota Pagaralam membutuhkan waktu hingga sembilan jam dari Palembang,” kata dia.

Namun, bukan berarti Sumsel tidak dapat berinovasi untuk mengatasi keadaan ini seperti membuat wisata Sungai Musi dengan beragam konteks sehingga membuat pendatang bisa berlama-lama di Palembang.

“Untuk pengelolaan objek wisatanya, bisa melibatkan kalangan swasta, sementara untuk infrastrukturnya seperti jalan tentunya pemerintah harus terus mengusahakannya,” kata dia.

Terbukanya ruas Tol Trans Sumatera Palembang-Lampung diharapkan terus menumbuhkan perekonomian di kedua provinsi, bukan hanya pariwisata tapi di berbagai lini demi kesejahteraan masyarakat. Semoga pergerakannya secepat laju kendaraan di Tol Palembang-Lampung. (Red-TP)

Pewarta : Dolly Rosana
Editor : Indra Gultom
Sumber: Antara

Komentar

Headline