oleh

Aku Cerdas karena Guruku Cerdas

OPINI

Penulis : Indri Karlini, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Raden Fatah Palembang, angkatan 2016.


(Observasi dilakukan pada RA Perwanida 2 Kota Palembang, Sumatera Selatan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Psikopatologi anak)

**

PENDIDIKAN anak usia dini (Paud) merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Pembinaan itu dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Tidak lah mudah mendidik anak usia dini, karena dari keenam aspek perkembangan anak seperti, nilai moral (agama), kognitif, fisikmotorik, bahasa, sosial emosional dan seni harus dibantu perkembangannya oleh guru Anak usia dini.

Tidak semudah melontarkan kata “Mengerti” seperti biasa dilontarkan kepada anak usia sekolah dasar atau tingkat yang lebih tinggi. Karena anak usia dini bukan dipaksa namun dibimbing dan diberi arahan untuk membuat anak-anak tersebut dapat memahami tentang sesuatu.

Tidak berbeda dengan pendidikan anak usia dini (AUD) di lembaga lain, RA Perwanida 2 Kota Palembang memiliki karakteristik guru yang sama seperti penulis sebutkan sebelumnya. Namun, ada hal yang istimewa dari sekolah ini ialah guru di RA tersebut membimbing dan mendidikan anak yang berkembang sesuai perkembangan sekaligus membimbing anak berkebutuhan khusus.

Anak berkebutuhan khusus agak berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus berproses dan tumbuh, tidak dengan modal fisik yang wajar, karenanya sangat wajar jika mereka terkadang cenderung memiliki sikap defensif (menghindar), rendah diri, atau mungkin agresif, dan memiliki semangat belajar yang lemah.

Menurut Heward, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat.

Guru sedang mengajar anak berkebutuhan khusus di RA Perwanida 2 Kota Palembang

Dilembaga RA Perwanida 2 Kota Palembang ini terdapat anak mengalami gangguan Tunagrahita. Definisi Tunagrahita atau nama lain dari Retardasi mental adalah suatu keadaan dengan intelegensia yang kurang sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak – anak).

Tunagrahita ditandai dengan keterbatasan intelektual dan ketidakmampuan dalam interaksi sosial. Berpengaruh dalam proses tumbuh dan kembangnya baik secara fisik, mental, sosial dan emosional.

Anak Tunagrahita atau disebut Mental Retarded, yaitu gangguan intelektual keterbelakangan mental. Anak Tunagrahita ditandai dengan intelektual di bawah rata – rata yang mengalami hambatan perilaku adaptif selama masa perkembangan, sehingga tidak mampu beradaptasi dengan kehidupan sosialnya.

Penyebab Tunagrahita secara garis besar dapat dibagi 4 faktor. Pertama Faktor Genetik, pada anak yang mengalami retardasi mental atau tunagrahita dari faktor genetik ini memiliki kelainan jumlah kromosom, misalnya Mongolia atau Down Syndrome (trisomi pada kromosom) kelainan ini ditularkan dari orang tua ke anak.

Kedua Faktor Prenatal, faktor ini adalah keadaan tertentu yang telah diketahui ada sebelum saat kelahiran, tetapi tidak dapat dipastikan penyebabnya.

Selanjutnya Faktor Natal, pada kasus ini bisa terjadi anoxia otak karena Asphyxia yaitu lahir tanpa nafas seperti bayi tercekik karena lender atau adanya cairan dalam paru – paru.

Asphyxia disebabkan karena ibu mendapat bius terlalu banyak saat melahirkan dan bayi dengan kondisi seperti ini akan mengalami retardasi mental.

Selain Asphyxia, bayi lahir sebelum masanya (Prematuritas) juga menyebabkan pertumbuhan jasmani dan rohani mengalami hambatan atau bayi mengalami perdarahan pada bagian dalam kepala (intracranial haemorrhage).

Terakhir Faktor Postnatal, pada kasus ini biasanya disebabkan infeksi pada otak karena cerebral meningitis, ensefalitis, trauma dan tumor otak. Juga bisa karena kekurangan nutrisi, kekurangan dalam pemenuhan lemak, karbohidrat, protein. Kegagalan gizi berakibat gangguan fisik dan mental pada individu.

Maka dari itu, penulis terkesan bahagia dan terharu atas pengabdian dan keikhlasan guru di RA Perwanida 2 ini dalam menjalankan tugasnya untuk menjadikan anak-anak yang bergerak aktif, memiliki kecerdasan, bersosialisasi yang baik dan menumbuhkan anak-anak yang berprestasi dalam bidang spiritual dan seni.

Lembaga ini memiliki guru yang sabar dan kreatif dalam membimbing anak yang berkebutuhan khusus, sehingga anak di lembaga ini terlihat sama dan memiliki kreativitas yang tinggi baik segi moral agama, sosial, seni dan lain sebagainya. (***)

Komentar

News Feed