oleh

Ajak Bangun Indonesia dari Desa, Fendy Kaboky Promosikan ‘Satu Desa Satu Jurnalis’

TRIBUNPOS PALEMBANG – Sumatera Selatan patut bangga memiliki segudang seniman yang mengangkat nilai budaya baik dari karya sastra, tari, theater dan dalam warna musik daerah. Salah satunya adalah Bung Fendy Kaboky berkarya di industri musik. Nama Fendy Kaboky sangat familiar dengan nuansa lagu – lagu daerah Sumatera Selatan. Beliau mulai mengenalkan lagu – lagu yang ditulisnya pada era tahun 94-an lalu.


Alhamdulillah malam ini kita kedatangan tamu istimewa di Kantor Tribun Pos, seorang seniman ternama Sumsel, Fendy Kaboky. Karyanya sangat kental dengan seni budaya Sumatera Selatan. Banyak lagu daerah yang ia ciptakan. Lagu – lagunya telah menasional.

Fendy Kaboky mengajak para putra – putri terbaik desa se- Sumsel untuk terlibat membangun Indonesia dari Desa, dengan cara membekali diri mengikuti Sekolah Jurnalistik Desa (SJD) yang digagas Tribun Pos.

Fendy Kaboky mengatakan Sekolah Jurnalistik Desa ini adalah Pioner di Indonesia dengan konsep Satu Desa Satu Jurnalis, Satu Desa Satu Humas Desa, Satu Desa Satu Satu Website Desa, Satu Desa Satu YouTuber Desa.

Berikut kutipan wawancara Fendy kaboky di kantor Tribun Pos :

Bisa diceritakan bagaimana awal Anda berkecimpung di bidang seni musik khusus musik daerah? Apakah memang mengambil kuliah jurusan tersebut? Atau memang mewarisi bakat orang tua?

Awalnya saya hanya mengamati. Lalu saya coba  coba menulis lirik dan mengaransemen musiknya secara otodidak saja dengan sebuah gitar. Saya putuskan mengeksplor musik daerah karena saya ingin belajar sesuatu yang kreatif apalagi Sumatera Selatan kaya dengan ragam suku dan corak bahasa.

Sejak kapan dan lagu apa yang pertama kali ditulis?

Saya mulai memberanikan diri mengenalkan lagu yang saya tulis di awal tahun 94-an, dan lagu pertama yang saya tulis adalah “ Bende Seguguk “ dialek bahasa daerah Ogan Komering Ilir (OKI). Selanjutnya ada “ Perahu Meranjat “ dan lainnya.

Setelah itu saya mulai mencoba merantau ke tanah seberang (Jakarta seputaran) dan sempat bergabung di manajemen artis Dangdut Pro, ya, sebelum program Kontes Dangdut Indonesia yang digarap oleh salah satu televisi di Indonesia

Bagaimana bisa bertahan selama 26 tahun dan menjaga kwalitas karya ?

Selalu humble, good team player, bisa terima kritikan dengan baik, selalu belajar untuk meningkatkan keahlian (baik dari belajar sendiri atau dari teman dan masyarakat umum), tidak meremehkan orang lain, respectful to everybody, dan sopan. Dan, tentunya karya yang saya tulis mengikuti perkembangan jaman (warna musik) dan pemilihan kata – kata yang sehari – hari di ucapkan dan di dengar oleh warga di daerah masing  masing.

Ceritakan apa saja tantangan dan  dalam membuat audio visual effects?

Setiap video clip, tipe dan style effects-nya berbeda, jadi kita harus belajar inovasi cara-cara yang baru untuk mengerjakannya. Terkadang kita juga harus menggunakan teknologi yang baru yang kita belum pernah pakai dan harus belajar mulai awal lagi.

Sekarang saya punya dua lagu yang bertemakan Corona Virus Disease (Covid-19). Insha Allah dalam waktu dekat lagu tersebut akan kita garap visualisasinya (Video klip).

Apa yang ada di benak  Bung Fendy terkait program “ Sekolah Jurnalistik Desa “?

“ W.O.W…. Mantul..!!! Karena ini ide yang sangat briliant, ketika orang lain masih berpikir, sahabat di Tribun Pos sudah berbuat!!!”. Program ini sangat luar biasa, satu desa satu jurnalis, satu desa satu humas desa, satu desa satu youtuber desa dan satu desa satu media (Web) desa. Ini sangat membangun banget, silahkan welcome untuk pemuda Indonesia, jangan berpikir mundur, kita harus berpikir maju cemerlang ke depan, Sumsel ini harus menjadi suri tauladan dan jembatan emas itu ada di Tribun Pos”.

Silahkan tonton video wawancarannya di link berikut :

 

 

 

 

 

Komentar

Headline